Berawal dari ide Gerakan KAMMI Mengajar yang mendapat apresiasi sebagai 10 finalis aksi semangat Fatigon. Menurut saya, ini merupakan prestas luar biasa yang berhasil ditorehkan oleh sebuah gerakan ekstra seperti KAMMI. Mengingat finalis lainnya sebagian merupakan hasil karya yang sudah berjalan, bahkan sudah sangat besar. Di saat yang bersamaan, kami diundang oleh Indonesia Mengajar sebagai peserta untuk sit in dalam training. Indonesia mengajar ini merupakan sebuah karya dari Anies Baswedan yang menyeleksi para sarjana muda untuk mengajar di berbagai pelosok di negeri ini.

Tidak hanya itu, ternyata ide kami pun di apresiasi oleh sebuah acara Kick Andy sebagai salah satu narasumber inspiratif pada kesempatan ini. Seperti yang kita ketahui, semua kisah yang diundang dalam acara Kick Andy ini minimal sudah berjalan dan menampakkan hasil yang signifikan untuk enjadi inspirasi bagi asyarakat indonesia lainnya. Kami pun kadang merasa tidak pantas untuk ditayangkan dalam acara sebesar itu. Mungkin ini yang dinamakan Allah sebagai takdir. DI balik ribuan kisah inspiratif lainnya, gerakan KAMMI Mengajar lah yang diberikan kesempatan kali ini untuk berbagi dengan masyarakat Indonesia lainnya.

Tim dari Gerakan KAMMI mengajar UGM pun memutuskan untuk berangkat ke bogor mengikuti pelatihan Indonesia Mengajar, dilanjutkan ke metro TV untuk tampil dalam acara Kick Andy. Ada 4 orang yang berangkat dalam kesempatan kali ini yaitu saya, kharis, lina, dan nur. Kami berempatpun berangkat menggunakan kereta Gajah Wong. Kereta terakhir yang berangkat dari jogj ke jakarta pada hari itu. Harga tiket yang sangat mahal hingga 4 kali lipat dari kerete ekonomi progo ternyata belum menjamin akan mendapat pelayanan yang maksimal. Kami pun kehabisan tiket duduk, dan akhirnya berkesempatan untuk berdiri hingga tiba di jakarta.

Di atas kereta, suasana masih sepi, belum banyak bangku yang terisi. Sehingga kami memutusan untuk duduk di bangku-bangku yang kosong. Tak lama kemudian, satu persatu pemilik kursi pun datang hingga salah satu dari kami terpaksa duduk di lantai. Perjalanan begitu kami nikmati selama 10 jam. Kami berempat bukanlah orang asli jakarta yang terbiasa berpetualang di kota yang ramai ini. Setelah menanyakan ke teman-teman yang asli bogor, kami pun akhinrya turun di stasiun jatinegara untuk kemudian melanjutkan perjalanan ke stasiun jakarta kota. Dari sana kami pun akhirnya melanjutkan perjalanan naik KRL ke bogor. Perjalanan ke bogor ini yang sangat nyaman. Walaupun badan terasa pegal dan perut sudah kelaparan karena belum sempat makan, kami masih bisa istirahat dengan tenang di atas KRL ke bogor ini.

Petualangan di Bogor

Setiba di bogor, ternyata perjalanan kami masih panjang. Setelah dihitung-hitung, sekitar 10 kali kami naek angkot berbeda dalam sehari, di tambah 3 Kereta yang berbeda pula. Akan saya ceritakan satu persatu, semoga bisa menjadi pengalaman berharga yang bisa teman-teman lain nikmati tentunya. Dari stasiun bogor, kami naek angkot 03 menuju Bubulak, bisa juga menuju laladon (stasiun pemberhentian angkot). Nah di laladon ini, akan banyak sekali kita temui angkot yang keliling di Bogor. Di sana kami memilih angkot yang ke arah kampus dalam (IPB). Angkot ini pun baru akan jalan ketika penumpangnya sudah penuh. Jadi butuh waktu menunggu lebih lama lagi untuk segera berangkat ke IPB padahal kami sedang di tunggu oleh rekan-rekan di indonesia Mengajar.

Bogor yang mendapat julukan sebagai kota hujan ternyata sedang tidak bersahabat siang ini. Kami merasakan suasana yang sangat panas di sekitar IPB. Kami pun memutuskan untuk makan terlebih dahulu karena sejak pagi tadi belum sempat menikmati makanan. Sembari menunggu rekan-rekan KAMMI IPB, makanan kami nikmati dengan sangat lahap. Di tempat makan ini pula kami sempatkan untuk mengirimkan beberapa data yang di butuhkan oleh metro TV untuk keperluan tayang rabu esok. Selang 30 menit kemudian, 2 orang akhwat pun datang menjemput kami dan membawa 2 akhwat rekan saya ke kos-kosan mereka, sedangkan saya dan kharis ke pesantren mahasiswa di sekitar IPB. Di sana kami gunakan waktu untuk sholat dan mandi. Badanpun mulai terasa segar.

Setelah siap-siap, akhirnya kami berempat berangkat ke lokasi tepat training Indonesia mengajar dilaksanakan. Tidak ada satupun dari kami yang memahami daerah bogor. Berbekal sedikit arahan dari rekan-rekan KAMMI IPB, kami pun memberanikan diri mengikuti petunjuknya. Untuk tiba di lokasi, kami harus naek 4 angkot yang berbeda di tambah 1 kali naek ojek menuju ke lokasi. Di saat seperti ini, saya merasa bersyukur berkesempatan kuliah di jogja. Waktu yang saya habiskan tiap hari tidak hanya terbuang untuk perjalanan. Kami semua merasa kelelahan dengan perjalanan yang panjang ini. Kami juga belum sempat istiahat sebelumnya.

Kelelahan itupun terobati sudah ketika melihat lokasi pelatihan indonesia mengajar yang begitu sejuk. Berada di daerah pegunungan yang sangat dingin. Di sana kami disambut sangat baik oleh para penyelenggara pelatihan. Kami diberikan kesempatan untuk mengikuti pelatihan selama 2 hari. Sempat pula kami berdiskusi dengan pak hikmat (Direktur eksekutif Indonesia Mengajar) mengenai pendidikan di Indonesia. Diskusi di sela-sela makan malam yang sangat inspiratif.

Karena waktu suda larut malam, kami pun memutuskan untuk pulang terlebih dahulu untuk selanjutnya mengikuti pelatihan di esok hari. Di sini lah kami berpisah. Lina dan Nur menuju ke arah IPB untuk bermalam di sana, sedangkan saya dan kharis menuju ke citayam ke rumah saudaranya kharis. Kebetulan saya dan kharis memiliki agenda lain di jakarta, sedangkan 2 rekan saya akhwat akan mengikuti pelatihan di Indonesia mengajar Pagi ini. Semoga ilmu yang mereka dapatkan bisa di bagi dengan rekan-rekan lainnya di jogja nanti.

Citayam, 27 September 2011, 07.30 WIB

Iklan