“Agama dan kekuasaan adalah seperti dua orang saudara kembar, keduanya tidak bisa dipisahkan. Jika salah satu tidak ada, maka yang lain tidak akan berdiri secara sempurna. Agama adalah pondasi sementara kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu tanpa adanya pondasi akan rusak dan jika tidak dijaga, ia akan hilang”

                Seperti itulah kutipan kalimat dari Imam Al-Ghazali terkait agama dan kekuasaan. Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak dapat terlepas dari pengaruh kedua unsur tersebut. Begitu juga dalam kehidupan kampus yang sedang kita jalani sekarang sebagai mahasiswa yang terus berjuang untuk menegakkan dan menyebarkan Agama Islam. Ketika orang-orang pemegang kekuasaan merupakan orang yang tidak memiliki komitmen terhadap dakwah, maka akan berdampak pada lahirnya kebijakan-kebijakan yang meruntuhkan norma keislaman pada suatu komunitas tertentu.

Dalam menunaikan tanggung jawab sebagai seorang mahasiswa yang dituntut untuk terus belajar dan berkontribusi, juga mempunyai tanggung jawab sebagai seorang muslim untuk menyampaikan risalah Islam. Tantangan yang cukup besar sedang dialami oleh para aktivis dakwah, dimana sikap apatis dan pragmatis mulai meluas ke seluruh elemen mahasiswa. Ketika hari ini mahasiswa di harapkan untuk ikut memberikan solusi bagi permalahan bangsa, justru terdapat oknum yang berusaha untuk mematikan setiap langkah gerakan mahasiswa.

Oleh karena itu, saat ini dibutuhkan mahasiswa yang mampu berpikir kritis, kreativ, dan inovatif untuk menjawab tantangan zaman saat ini. Setiap zaman memiliki tantangannya tersendiri, dan seperti inilah tantangan yang sedang dialami oleh para aktivis dakwah kampus. Kader-kader dakwah sudah mulai bersikap apatis akan dinamika yang terjadi di kampus. Harapannya dengan kekuasaan inilah kita tetap menjaga kebijakan untuk tetap bisa memberikan kenyamanan bagi setiap umat yang ingin beribadah.

Untuk bisa menyebarkan dan memperjuangkan agama Islam (Agama yang paling benar di sisi Allah), maka kita butuh sebuah kekuasaan agar aktivitas dakwah tersebut bisa berjalan dengan lancar. Bukan sebuah kepentingan yang dipengaruhi hawa nafsu, tetapi sebuah tanngung jawab besar untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena kita sebagai makhluk Allah wajib

Dengan tetap menjaga agar kekuasaan bisa kita pegang, maka sebuah keniscayaan bagi pemegang kekuasaan itu agar setiap kebijakan yang dikeluarkan benar-benar demi kepentingan dakwah. Bagaimana supaya umst muslim bisa menjalankan ibadahnya dengan nyaman. Dan bagaimana sebuah kultur atau budaya Islam bisa menjelma dalam norma yang terjadi di lingkungan masyarakat tersebut.

Berbicara mengenai agama dan kekuasaan, maka kita juga tidak bisa terlepas dari kata As-Siyasah. Adapun kata As-Siyasah berasal dari kata (mengatur atau memimpin), Siyasah bisa juga berarti pemerintahan dan politik atau membuat kebijaksanaan. Secara terminologi (istilah) dalam Lisan Al-A’rab, Siyasah adalah mengatur atau memimpin sesuatu dengan cara yang membawa kepada kemaslahatan.

Objek fiqh siyasah menurut Abdul Wahhab Khallaf ialah membuat peraturan dan perundang-undangan untuk mengurus negara sesuai dengan pokok-pokok ajaran agama. Menurut Hasbi Ash Shiddieqy ialah pekerjaan mukallaf dan segala urusan pentadbiran (pengaturan) dengan jiwa syariah yang tidak diperoleh dalil khususnya dan tidak berlainan dengan syariah ammah. Menurut Ibn Taimiyah ialah berkaitan dengan memegang kekuasaan, mereka yang memiliki amanah dan menetapkan hukum yang adil.amanah dan menetapkan hukum yang adil.

Secara garis besar maka objeknya menjadi, pertama, peraturan dan perundang-undangan, kedua, pengorganisasian dan pengaturan kemaslahatan dan ketiga, hubungan antar penguasa dan rakyat serta hak dan kewajiban masing-masing dalam mencapai tujuan negara.

HIDUP MAHASISWA INDONESIA…!!!

ALLAHU AKBAR…!!!

Iklan