LATAR BELAKANG

            Menurut data dari bank dunia, ada 100 juta penduduk Indonesia yang dapat dikategorikan rakyat miskin. Artinya, hampir separuh rakyat Indonesia masih kesulitan untuk mencari makan dan melanjutkan kehidupannya dengan layak. Bahkan dari sekian banyak rakyat miskin itu, yang terkelola oleh Negara hanya sebagian kecil saja, baik dalam bidang pendidikan maupun kesehatan. Sisanya menjadi kaum hina yang hampir bisa dikatakan tidak mempunyai motivasi lagi untuk hidup. Sementara di satu sisi, para pejabat kita malah hidup dalam kemewahan dan kelimpahan harta. Inilah potret buruk dari bangsa kita saat ini.

Puisi para bedebah karya adhie masardi nampaknya menjadi relevan ketika kita kontekskan dalam fenomena yang terjadi di bangsa ini. Carut marutnya pengelolaan Negara menjadikan banyak rakyat yang menjadi pengemis bukan hanya di negeri sendiri, melainkan juga di negeri orang lain. Rakyat yang miskin menjadi tidak bermartabat lagi. Dalam kondisi seperti ini, tidak salah ketika pendidikan menjadi solusi permasalahan ini. Oleh karena itu, pendidikan kita sebaiknya mengajarkan mlarat ning ningrat (miskin tapi bermartabat) bukan mengajarkan orang yang sugeh nanging gemedhe (kaya tapi besar kepala). Konsep pendidikan seperti ini akan meningkatkan karakter masyarakat Indonesia yang ketika miskin tidak menjadi terbelakang dan kaya pun tidak menjadi sewenang-wenang dengan jabatan dan pangkat yang dimiliki.

Zaman penjajahan menjadi cermin kita betapa pendidikan menjadi suatu hal yang begitu sakral yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan bangsawan. Di masa reformasi ini, pendidikan juga masih menjadi hal sakral yang hanya bisa dinikmati oleh kalangan orang berduit. Sehingga pepatah “orang miskin semakin miskin, orang kaya semakin kaya” sangat relevan jika di kontekskan dalam kehidupan bernegara kita saat ini. Orang yang bisa menikmati pendidikan akan lebih punya peluang besar untuk melawan arus globalisasi. Sehingga lagi-lagi, akses pendidikan kita masih terbatas pada beberapa golongan. Padahal seharusnya, pendidikan menjadi public goods yang bisa menjadi penerang bagi gelapnya masa depan rakyat kita.

Dalam hal ini, coba kita kontekskan pendidikan ideal itu dengan konsep Dauroh Marhalah yang dilakukan oleh KAMMI sebagai pintu masuk menjadi anggota KAMMI. Dauroh juga bisa di katakan sebagai salah satu instrument pendidikan karena mengandung konsep transfer ilmu pengetahuan. Artinya, sesuai konsep di atas, dauroh juga masuk sebagai public goods. Nah yang menjadi pertanyaan adalah, sudahkah dauroh KAMMI mencakup semua kalangan yang seharusnya bisa menikmati pendidikan karakter yang di terapkan?

Keresahan ini mulai muncul karena yang saya saksikan adalah dauroh KAMMI itu malah menjadikan KAMMI terlihat lebih eksklusif. KAMMI yang seharusnya bisa memberikan manfaat yang besar bagi masyarakat ternyata malah keberadaannya menjadi menara gading di tengah realitas masyarakat kit. Apakah ini gara-gara sistem kaderisasinya?ataukah syiar yang dilakukan tidak dengan penuh totalitas?

Oleh karena itu, paradigma berpikir bahwa Dauroh Marhalah itu semata-mata menjadi pintu masuk KAMMI perlu di rekonstruksi. Bahkan saya mulai berpikir, semua orang bisa mengikuti dauroh marhalah KAMMI. Akan tetapi, orang itu bisa menjadi anggota KAMMI ketika sertifikasinya lolos. Sehingga orang yang ingin mendapatan ilmu pengetahuan melalui Dauroh ini bisa tercapai tanpa menjadi sebuah keterpaksaan menjadi anggota KAMMI. Karena keanggotaan dalam organisasi itu seharusnya menjadi sebuah kebebasan dari sikap seseorang.

 

RUMUSAN PERMASALAHAN

Mengingat pentingnya sebuah kaderisasi dalam kepengurusan sebuah organisasi tak terkecuali KAMMI, maka konsep dauroh yang menjadi basis ideologi dan gerakan mahasiswa perlu dipikirkan secara matang. Beberapa permasalahan yang coba saya angkat pada tulisan kali ini antara lain :

  1. Bagaimanakah peran pendidikan dalam menjawab solusi permasalahan bangsa?
  2. Bagaimanakah esensi adanya gerakan mahasiswa dengan perbaikan di negeri ini?
  3. Apakah Dauroh KAMMI bisa menjadi forum terbuka untuk semua kalangan menikmati pendidikan bahkan mempersatukan antar gerakan?
  4. Bagaimanakah seharusnya konsep Dauroh di KAMMI agar bisa terintegrasikan dalam peningkatan kapasitas kader?
  5. Mampukah sosok Muslim Negarawan yang dilahirkan dari dauroh KAMMI membantu menjawab permasalahan bangsa ini?

Beberapa permasalahan di atas yang coba akan saya kaji untuk menemukan seperti apa sebaiknya proses kaderisasi yang bisa melahirkan sosok muslim negarawan di negeri ini.

 

ANALISIS PEMBAHASAN

Esensi Pendidikan Indonesia

Perbaikan bangsa ini akan bisa dilakukan dengan pendidikan yang mengutamakan akses seluas-luasnya dan kualitas yang terjaga. Sudah jelas dalam kontitusi Negara kita bahwa salah satu tujuan Negara ini adalah  untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. hal itu dilakukan melalui pendidikan. Artinya di sini tidak ada pandang bulu, semua orang berhak memperoleh pendidikan yang baik. Bukan hanya orang kaya saja, bukan hanya kaum bangsawan saja, tapi semua rakyat Indonesia dari sabang sampai merauke.

Dalam UUD 1945 pasal 28C ayat (1) ditetapkan “setiap orang berhak mengembagkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia.” Hak warga Negara atas pendidikan tersebut dipertegas kembali dalam pasal 31 Ayat (1) yang menetapkan “Setiap warga Negara berhak mendapat pendidikan.” Dari sini kita lihat betapa pentingnya proses pendidikan untuk meningkatkan kualitas rakyat Indonesia.

Kenapa Malaysia bisa semena-mena mencuri kebudayaan Indonesia? Karena pendidikan Malaysia lebih maju dari Indonesia. Kenapa Amerika bisa dengan mudah mengambil tambang Indonesia melalui PT Freeeport? Karena mereka memiliki kekuatan ekonomi sebagai daya tawar terhadap Indonesia. Indonesia seakan sudah menjadi Negara yang tidak memiliki martabat lagi. Rendahnya pendidikan Indonesia menjadikan bangsa ini tidak memiliki bargain position yang tinggi di dunia internasional.

Kita tentu sering mendengar sebuah pernyataan pendidikan yang buruk akan menghasilkan pemerintahan yang buruk dan pemerintah yang buruk akan melahirkan sistem pendidikan yang buruk juga. Kalimat ini mungkin sudah terlalu sering terlontar tanpa ada pemecahan masalah yang konkret. Sekarang lah saatnya masalah ini kita pecahkan melalui konsep dauroh yang akan di kembangkan oleh rekan-rekan KAMMI. Dauroh yang ikut membentuk karakter mahasiswa yang menjadi Director of Change dalam perubahan yang terjadi di negeri ini. Karena dauroh juga merupakan salah satu instrument dalam dunia pendidikan.

Munculnya KAMMI di era reformasi

Di saat kondisi bangsan ini cukup bergejolak dengan adanya krisis ekonomi yang kemudian menjalar ke krisis multidimensional. KAMMI lahir dengan membawa agenda reformasi para pejuang dakwah kampus saat itu. Jaringan aktivis dakwah yang tersebar di seluruh kampus negeri menjadikan gerakan yang dibangung pun segera meluas menjadi sebuah gerakan besar. Aksi-aksi yang dilakukanpun penuh totalitas dengan membawa agenda reformasi total di negeri ini. Konsolidasi pun di banging dengan semua gerakan lain untuk memberikan gebrakan besar dalam mengusung agenda reformasi.

KAMMI yang ikut menjadi pengusung agenda reformasi tentu juga memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengeluarkan bangsa ini dari keterpurukan. Setelah reformasi berlangsung 12 tahun, lantas apa yang salah ketika masih saja banyak rakyat miskin yang sengsara dan para pejabat yang terlibat koruptor. Di sinilah peran pendidikan yang mengajarkan kita untuk memiliki rasa empati terhadap sesama, sikap jujur, totalitas dalam berkarya, serta keikhlasan dalam berjuang.

Coba kita telisik apa yang masih kurang dari proses kaderisasi yang telah di bangun oleh KAMMI. Sudahkah dauroh yang diselenggarakan oleh KAMMI ini menjadi instrument pendidikan yang bisa di rasakan oleh banyak kalangan? Di titik inilah saya mencoba mengangkat ini sebagai permasalahan utama. Dauroh KAMMI menjadi sebuah forum pertemuan semua kalangan mahasiswa lebih mengenal ideologi KAMMI. Akankah dauroh KAMMI menjadi pintu unutk perbaikan negeri melalui sosok muslim negarawannya.

Esensi Dauroh KAMMI

            Orientasi kaderisasi di KAMMI adalah melahirkan sosok seorang Muslim Negarawan untuk mengisi pos-pos penting dalam pemerintahan negeri ini. KAMMI sesuai visinya melahirkan pemimpin-pemimpin yang tangguh berupaya bersikap bijak bahwa kebobrokan pemerintahan yang terjadi sekarang ini harus di selesaikan dengan upaya-upaya perbaikan dan tawaran solusi konkret. Kebobrokan sistem pemerintahan yang terjadi sekarang ini merupakan wajah buruk dari pendidikan yang dialami oleh para pejabat kita. Oleh karena itulah, kemunculan KAMMI pun menjadi jawaban untuk menjawab krisis multidimensi yang terjadi di Indonesia dengan mencetak para muslim negarawan.

Ada banyak alasan yang melatarbelakangi mengapa KAMMI menggagas muslim Negarawan. Istilah ini bukanlah sebuah istilah hampa tanpa makna, tapi       terlahir dalam sebuah proses diskusi yang panjang untuk menjadi tujuan penkaderan dalam KAMMI. Menurut Rijalul Imam, setidaknya ada empat dimensi penting mengapa gagasan muslim negarawan muncul. Pertama, Dalam visi gerakan KAMMI terpaparkan dengan jelas visi “melahirkan pemimpin masa depan yang tangguh di Indonesia”. Naluri kita langsung mengarah kepada sosok seorang negarawan yang bekerja demi kepentingan bangsa dan negaranya. Jadi, adanya tokoh-tokoh KAMMI yang menjadi pemimpin baik dalam ranah kampus maupun masyarakat seharusnya bisa menjadi seorang negarawan. Pemimpin yang tidak lagi berpikir hanya untuk menyelamatkan kepentingan pribadi maupun golongan, tapi kepentingan bangsa dan Negara.

Kedua, Al-Qur’an juga mengapresiasi sosok ideal yang dapat memimpin dirinya sendiri dan masyarakat. Setidaknya, seorang kader KAMMI itu memiliki beberapa kualitas inti yang di idealkan Al-Qur’an. Tradisi pengetahuan yang kuat yang merujuk pada sosok Nabi Yahya a.s yang memulai risalahnya dengan tradisi membaca yang tekun. Mentalitas yang kuat merujuk pada keberanian Nabi Musa melawan tirani kekuasaan Fir’aun yang mengaku sebagai Tuhan. Tubuh yang kuat merujuk pada sosok Thalut, panglima yang berwawasan dan bertubuh kuat. Keunggulan spesialisasi merujuk pada nabi Yusuf yang ketika ditawari menjadi pejabat mesir, dia menaikkan bargaining position dengan menawarkan keunggulan spesialisasinya menjadi bendaharawan. Kemampuan kepemimpinan yang kuat merujuk pada kepemimpinan nabi Daud a.s yang amat taat pada Allah dan memilikii kekuatan besar dalam memimpin. dan yang terakhir adalah performance yang kuat merujuk pada keperkasaan Jibril.

Dimensi ketiga dalam realitas sosial politik, kita membutuhkan seorang pemimpin yang muslim negarawan dalam menjawab permasalahan bangsa ini. Muslim yang tidak hanya sibuk dengan dirinya tapi juga mengurusi umat dan bangsa ini. Begitu pula negarawan yang tidak hanya disibukkan dengan tugas kenegaraannya, tapi juga memiliki karakter kepemimpinan islami yang menegakkan ajaran Islam di negaranya.

Keempat, konstitusi UUD ’45 telah menerangkan kepada kita akan tugas  dan tujuan Negara. KAMMI sebagai salah satu gerakan  mahasiswa tentu saat ini belum diberikan amanah untuk mengurusi rakyat dan Negara, tapi bagaimana ke depannya KAMMI memiliki tanggung jawab untuk melahirkan sosok mulim negarawan yang akan mengurusi bangsa ini.

Di negeri ini, kita sering mendengar dikotomi kekuasaan politik antara island an nasionalis bahkan ada yang tengah-tengah. Bahkan ada klaim bahwa yang bisa memimpin Negara hanyalah seorang negarawan dan seorang muslim cukup untuk belajar dan mengajarkan Islam. Padahal orang yang mengaku negarawan itu juga muslim. Kalo kedua konsep ini digabungkan, tentu akan bisa menjadi kekuatan besar dalam kemajuan Indonesia.

Konsep Dauroh

Mengacu pada tujuan dauroh di atas yang di integralisasikan dalam konsep sosok negarawan, lantas konsep dauroh seperti apa yang ideal untuk mencapai tujuan di atas?

Pertama, paradigma Dauroh Marhalah yang menjadi pintu masuknya mahasiswa ke dalam gerakan KAMMI harus sedikit di modifikasi. Tanggapan dari mahasiswa bermacam-macam ketika mereka di ajak mengikuti DM1. Ada yang mau mengikuti DM1, tapi tidak mau menjadi anggota KAMMI. Saya asumsikan pemikiran ini muncul karena mahasiswa yang kadang dikategorikan “bukan kader” merasa KAMMI itu sangat eksklusiv dengan sistem pengkaderannya. Padahal, di dalam DM1, kita di ajarkan banyak ilmu-ilmu dasar islam dan politik. Nah, apakah ilmu ini hanya bisa di dapatkan oleh orang yang mau masuk KAMMI? Lantas bagaimana dengan orang yang meu belajar tetapi tidak mau masuk KAMMI?

Kita kembalikan ke konteks esensi kaderisasi yang dibangun oleh KAMMI. Targetan dalam proses kaderisasi ini adalah penyebaran fikroh muslim negarawan, bukanlah hanya sarana rekruitmen kader. Ketika kita hanya berpikir bagaimana menambah kader sebanyak-banyaknya melalui DM1, maka sudah ada paradigma yang salah oleh kader KAMMI. Paradigma yang harus di bangun adalah DM1 itu bagian dari pendidikan yang harus bisa di akses seluas-luasnya oleh siapapun itu. Bahkan, ketika kader gerakan lain baik itu HMI, GMNI, FMN, dan sebagainya mau ikut DM1 bukankah itu sebuah kemajuan? Mereka aktif di gerakan mereka masing-masing dengan membawa fikroh Muslim Negarawan.

Artinya, DM1 tidak lagi menjadi pintu masuknya kader ke dalam KAMMI, tapi menjadi sarana berbagi fikroh ke semua kalangan mahasiswa, baik yang mau masuk KAMMI ataupun tidak. Pertanyaan berikutnya muncul, bagaimana seseorang bisa di sebut kader KAMMI? Keanggotaan di KAMMI bisa di mulai ketika dia lolos sertifikasi AB1. Karena fenomena yang ada, kita sering kali bangga dengan klaim banyaknya kader KAMMI dari banyaknya yang ikut DM1, padahal sebagian besar dari mereka kecewa dengan sistem yang ada di KAMMI sehingga memutuskan unutk tidak lagi mau peduli dengan KAMMI. Seberapa banyak kader yang ikut turun ketika KAMMI melakukan aksi?hanya segelintir saja. Jadi, keanggotaanpun menjadi berkualitas dan berdasarkan kepahaman akan pentingnya mereka di KAMMI.

Kemudian, selain sistem tersebut, materi-materi dalam dauroh pun perlu diperhatikan. Kader perlu dipahamkan akan pentingnya ruh historis dari pergerakan lahirnya KAMMI. Banyak kader yang ahistoris dengan sejarah lahirnya KAMMI. Lagi-lagi kata bung karno yang sangat menggugah kembali terngiang dengan JAS MERAHnya (jangan sekali-kali melupakan sejarah). Dengan memahami sejarah, rasa kecintaan terhadap KAMMI pun akan semakin kuat dengan memahami perjuangan heroik yang dilakukan oleh pelopor KAMMI. Nuansa perjuangan pun akan menjadi semangat baru dalam berjuang di era KAMMI saat ini.

Selain itu, kader perlu di dekatkan dengan realitas yang ada di masyarakat. Seringkali kader terkungkung pada basis dialektika, tetapi lumpuh ketika harus terjun pada ranah realitas di masyarakat. Jadi, dari awal kader sudah dibiasakan untuk menyelesaikan problema yang ada di masyarakat. Militansi kader teruji ketika mereka aktif dalam menghadapi problema di masyarakat. Intelegsia muslim negarawan pun bisa lahir dari dalam rahim kadersisasi KAMMI yang tidak lagi menjadi sebuah angan dan cita-cita. Insya Allah.

KESIMPULAN

            Pendidikan menjadi suatu hal yang sangat esensil dan sakral bagi pembangunna di Indonesia.Melalui pendidikan, harkat dan martabat bangsa di mata internasional pun bisa semakin tinggi. Oleh karena itu, jika ingin memperbaiki pemerintahan ini, maka perbaikilah sistem pendidikan yang ada. Pendidikan yang bisa dinikmati oleh semua kalangan masyarakat dengan kualitas yang baik. Sudah saatnya pemerintah dapat fokus pada pendidikan, sehingga tidak ada lagi rakyat yang tidak bisa menikmati pendidikan.

Mengacu pada pentingnya esensi pendidikan tersebut, KAMMI sebagai salah satu gerakan mahasiswa besar di Indonesia juga harus mengambil andil dalam pembangunan di Indonesia. Kaderisasi yang dibangun pun haru mulai mengarah pada bagaimana melahirkan sosok muslim negarawan untuk mengurusi masalah umat. Pemimpin yang memiliki tradisi pengetahuan yang kuat, mentalitas yang kuat, tubuh yang kuat, keunggulan spesialisasi, kemampuan kepemimpinan yang kuat, serta performance yang kuat. Hal inilah yang harapannya bisa menjadikan bangsa ini keluar dari keterpurukannya sehingga memiliki martabat yang tinggi di dunia internasional.

Sosok Muslim Negarawan di atas itu tentu saja dibangun melalui proses kaderisasi yang panjang. Dauroh Marhalah merupakan salah satu instrument kaderisasi di KAMMI dan menjadi pintu masuk kader di KAMMI. Akan tetap, sebagai bagian dari pendidikan, DM1 tidak bisa di rasakan oleh semua kalangan. Sehingga ilmu yang di berikan saat dauroh bisa dirasakan oleh sebagian besar mahasiswa. Artinya ideologi islam pun bisa menyebar melalui dauroh yang di bangun.Selain itu, Dauroh pun dirancang sedemikian rupa sehingga nuansa historis dan perjuangan heroik bisa merasuk dalam jiwa kader KAMMI.

Semoga dengan lahirnya sosok muslim negarawan ini bisa membawa Indonesia keluar dari keterpurukannya. Dan pendidikan menjadi solusi konkret akan carut marutnya pengelolaan negeri ini. Pendidikan karakter yang membuat rakyat miskin memiliki martabat. Pendidikan yang mengajarkan “mlarat ning ningrat, bukan sugeh nanging gemedhe”.

DAFTAR PUSTAKA

 

-          Al-Qur’an Al-Karim

-          Imam S.Hum., Rijalul. 2008. Menyiapkan Momentum. Bandung. Muda Cendekia.

-          Mangunwijaya. 2009. Negara Minus Nurani. Penerbit Buku Kompas.

-          Gandhi, Mahatma. 2009. Semua Manusia Bersaudara. Yayasan Obor Indonesia.

–          http://kammikomsatugm.wordpress.com/2010/04/17/kammi-membentuk-lapis-inteligensia-muslim-negarawan/

–          http://kammitasikmalaya.wordpress.com/2009/01/06/grand-design-bab-iv/

 

(Tulisan sebagai syarat Training Instruktur)

Iklan