HIDUP MAHASISWA…!!!

Proses komunikasi dikatakan efektif jika ada tindakan yang berwujud aplikasi dari sekian banyak mekanisme  pertukaran idea tau gagasan. Kita biasa mengenal dua proses dalam hal penyampaian ide ini, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Komunikasi secara langsung berarti proses pertukaran ide dilakukan dalam jangkauan yang dekat dan pihak-pihak yang berkomunikasi ikut terlibat. Artinya ada proses timbal balik dari pihak-pihak yang berkomunikasi. Sedangkan proses komunikasi secara tidak langsung berarti pihak-pihak yang terlibat tidak berada dalam lingkungan atau habitat yang sama.

Dalam komunikasi tidak langsung inilah diperlukan sebuah media yang dapat menjadi jembatan merah antara dua pihak yang berkomunikasi atau lebih. Media memiliki peran yang cukup strategis dalam alur distribusi berbagai informasi. Media ini bersifat independen sehingga memiliki kewenangan untuk membeberkan berbagai fakta. Fakta yang memang wajib diketahui oleh masyarakat dalam rantai komunikasi di Negeri ini.

Mengenal media, maka kita juga tidak bisa sepenuhnya terlepas dari salah satu unsur yang cukup penting dalam proses peyediaan informasi. PERS. Itulah sebutan bagi pihak yang diamanahi tugas dalam melacak berbagai informasi. Pers ini ibarat seorang detektif yang menganalisis informasi hingga ke akarnya. Bukan hanya kulit luar dari buah informasi itu. Informasi yang perlu diketahui oleh khalayak dalam menentukan sikap dan tindakan. Sehingga pers juga diberi hak prerogatif dalam penentuan informasi yang patut diberitakan kepada masyarakat.

Tapi, apa yang terjadi di era reformasi saat ini. Masa di mana kebebasan berpendapat sangat dijunjung tinggi. Tragis sekali. Pers dan media telah mengalami metamorfosis dalam hak prerogatif tersebut. Kini pers seringkali mendapat intervensi, tekanan, dan intimidasi dari berbagai pihak dalam memenuhi kebutuhan masyarakat akan informasi. Siapakah sebenarnya pihak-pihak yang ada di balik itu semua? Di sinilah peran kita sebagai Mahasiswa yang tidak bisa tertidur pulas menyikapi keadaan ini.

Lalu siapa sebenarnya pihak-pihak itu? Apa saja yang sudah mereka lakukan selama ini? Seberapa besar kuasanya dalam membungkam informasi dari mulut seorang Pers? Ataupun sebarapa besar kapasitasnya dalam memotong lidah berbagai lembaga independent lainnya dalam menyediakan informasi? Dan yang terpenting apa yang bisa kita lakukan sebagai Mahasiswa dalam menyikapi hal tersebut? Apakah kita hanya terdiam dan membiarkan Negeri ini dikuasai oleh pihak yang hanya bisa mengintimidasi? Ataukah kita akan menyuarakan apa sebenarnya yang diinginkan rakyat negeri ini?

Itulah pilhan. Mahasiswa sebagai Agent of Change (Agen Pelopor Perubahan) harus bisa mengambil tindakan dalam hal ini. Sebagai pihak yang memiliki posisi strategis di negeri ini, tentu berbagai informasi terkini dari rakyat maupun pemerintah mudah dijangkau oleh mahasiswa. Nah, dengan posisi seperti itu, apakah masih pantas kita disebut sebagai Mahasiswa jika hanya beraktivitas di ruang kuliah di depan dosen-dosen yang terus mengekang kebebasan kita?

Melalui tulisan ini, saya ingin mengajak rekan-rekan Mahasiswa semuanya untuk segera berteriak menyuarakan apa yang diinginkan rakyat Negeri ini. Jika lidah seorang Pers bisa di potong oleh pihak tertentu, maka tetaplah bertahan sebagai Mahasiswa sejati. Mahasiswa harus berusaha menydiakan informasi yang sebenarnya kepada rakyat dalam kapasitasnya masing-masing. Teruslah berjuang untuk menggilas kemunafikan dari elit Negeri ini. Jangan pernah menyerah hingga jasad ini menhembuskan napas terakhirnya di ring pertarungan dunia ini.

 

 

Iklan