Mahasiswa merupakan tokoh intelektual dengan kekhasan berpikirnya, kreativ, kritis, dan inovatif. Gerakan mahasiswa merupakan gerakan moral, dimana mahasiswa akan dituntut kontribusinya ketika ada sebuah tindakan amoral dimasyarakat. Terutama jika hal itu berkaitan dengan rakyat kecil yang sangat susah mendapat perlindungan dari pihak elit. Oleh karena itulah, terkadang ada pihak yang menyebut mahasiswa sebagai penyambung lidah rakyat dan telinga pemerintah.

Dalam tataran kampus, gerakan mahasiswa mulai terorganisir dengan masuk ke dalam berbagai lembaga yang bergerak di bidang sosial politik. Ketika sebuah gerkaan mahasiswa mulai masuk dalam suatu kelembagaan, maka tidak jarang akan berbenturan dengan berbagai kepentingan yang terkadang malah menjatuhkan ataupun mengurangi perannya dalam berkontribusi. Oleh karena itu, perlu juga ada sebuah sistem yang kuat dan kokoh agar sebuah lembaga bisa tetap mempertahankan eksistensinya di lingkungan mahasiswa dan masyarakat.

Terdapat tiga tolok ukur yang sangat berpengaruh dalam mengembangkan sebuah lembaga mahasiswa yaitu pelayanan, jaringan dan kaderisasi. Ketiga hal tersebut harus berjalan beriringan sehingga semua aktivitas bisa berjalan efektif. Coba kita perhatikan satu per satu. Pelayanan merupakan aspek utama bagaimana suatu lembaga mahasiswa bisa lahir. Setiap lembaga memiliki ciri-ciri tersendiri dalam bagaimana mereka bisa memberikan pelayanan terbaik kepada khalayaknya. Tentu saja hal tersebut harus sesuai dengan ideologi dari lembaga masing-masing.

Misalkan, BEM yang merupakan lembaga eksekutif di lingkungan mahasiswa yang bergerak di bidang sosial dan politik. Arah gerak dari BEM itulah yang membedakanya dengan lembaga lainnya dalam kampus yang mungkin ada yang bergerak di bidang keilmuwan, seni, olahraga dan lain-lain. Sehingga suatu lembaga akan dapat memberikan pelayanan sesuai dengan bisang gerak lembaganya. Dengan memahami hal tersebut, maka suatu lembaga pun akan paham seperti apa ruang lingkup, khalayak, serta tujuan besar organisasinya yang hendak dicapai.

Setelah fungsi pelayanan ini berhasil dilakukan dengan baik, coba kita lihat dari factor yang kedua yaitu jaringan. Jaringan ini juga menjadi suatu hal yang sangat penting dalam sebuh organisasi dan hampir semua lembaga memiliki bidang ini. Jaringan diperlukan agar suatu lembaga mahasiswa bisa memperluas cakupan kerjanya. Selain itu juga jaringan ini diperlukan dalam proses pencitraan yang positif dari suatu lembaga. Dengan seperti itu, maka kredibilitas lembaga di mata khalayaknya pun akan meningkat. Hal itu juga berimplikasi positif terhadap suksesnya suatu lembaga dalam memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Setelah sistem tersebut kokoh dalam suatu lembaga, selanjutnya alur kaderisasi yang teratur juga sangat diperlukan untuk keberlangsungan dari suatu lembaga. Terkadang, suatu lembaga bisa jatuh bahkan mati di saat pergantian kepengurusan. Hal itu terjadi karena tidak ada sirkulasi kepahaman maupun kebijakan yang jelas ke generasi berikutnya dari suatu lembaga. Oleh karena itulah diperlukan sistem kaderisasi yang kokoh. Kaderisasi ini jugalah yang dapat meingkatkan fungsi pelayanan dari suatu lembaga mahasiswa.

Ketika ketiga factor pendukung di atas telah kokoh dimiliki oleh suatu lembaga, maka eksistensi dan kontribusinya pun akan semakin meningkat. Akan tetapi, ketiga hal itu saja ternyata belum cukup. Fakta di lapangan, ternyata suatu lembaga tidak dapat bergerak sendirian dalam mencapai tujuan-tujuan besarnya.Sehingga perlu adanya sinergisitas suatu lembaga dalam berkontribusi.

Lantas sinergisitas dalam hal apa? dan dengan pihak mana saja?Jelas pertanyaan besar inilah yang terkadang terliihat sederhana tapi dapat berpengaruh besar dalam suatu lembaga mahasiswa. Ketika sinergisitas ini tidak bisa terlaksana dengan baik juga dapat berpegaruh terhadap tingginya dukungan terhadap suatu lembaga.

Sinergisitas lembaga ini sebaiknya bisa terjalin dengan semua pihak yang masuk dalam kategori pendukung gerakan sebuah lembaga mahasiswa. Pihak yang dimaksudkan di sini bisa merupakan personal maupun suatu kelompok. Yang perlu menjadi perhatian adalah bagaimana bentuk dari sinergisitas lembaga ini. Sinergisitas bukan lagi ketika harus menyesuaikan waktu pelaksanaan program dengan lembaga lain. Tapi, lebih dari itu, sinergisitas ini sudah dituntut untuk mendiskusikan tujuan bersama.

Tujuan bersama inilah yang akan membawa sebuah lembaga mahasiswa bisa semakin maju dan berkontribusi lebih besar lagi bagi masyarakat. Dengan berbagai factor-faktor di atas, harapannya tidak ada lagi kendala bagi sebuah lembaga mahasisswa dalam berkontribusi sesuai arah gerak lembaganya.

Iklan