Sore ini, saya dan beberapa rekan di sebuah organisasi yang saya pimpin berkumpul untuk membahas rencana keuangan sebuah organisasi ekstra kampus. Tak di sangka, ternyata organisasi ini sekarang memiliki modal yang cukup besar. Jauh dari perkiraan awal ketika saya menerima amanah untuk memimpin organisasi ini.

Dalam pengalaman saya menjadi pemimpin di sebuah organisasi intra kampus, kita tidak lagi berpikir bagaiman mencari dana untuk menjalankan organisasi. Hanya perlu berpikir untuk menjalankan organisasi sesuai dengan visi besarnya. Tapi, inipun sudah sangat melelahkan rasanya. Mengarahkan orang-orang yang ada di sana agar bergerak sesuai dengan visi besar organisasi. Memotivasi mereka sehingga bisa menjalankan kegiatan dengan penuh semangat.

Tidak banyak yang dapat memahami tugas seorang pemimpin. Seringkali terlihat abstrak, karena kerjanya bukan sebuah program kerja yang tertulis seperti yang dilakukan oleh orang lain. Bahkan juga sering di anggap tidak bekerja bagi mereka yang belum merasakan efek besar kepemimpinannya. Di sinilah letak ujiannya. Melakukan perbuatan besar tanpa pamrih, dengan penuh keikhlasan untuk menjalankan sebuah visi besar. Walaupun sering tidak di anggap dan di klaim sebagai pekerjaan orang lain.

Merasa lelah memimpin organisasi, saya memutuskan untuk mengakhiri ini semua dan mulai fokus untuk memikirkan studi saya yang belakangan ini sedikit terlantar. Namun, nampaknya Allah berkehendak lain. Bertubi-tubi saya diberikan amanah yang besar pasca melepas amanah pemimpin di lembaga intra itu. Menjadi koordinator KKN ke pulau buton dan menjadi pengurus harian di sebuah organisasi tingkat provinsi. Tidak cukup juga, pertengahan tahun 2011 saya di amanahi untuk mempimpin sebuah organisasi ekstra kampus. Tak pernah terbayang sebelumnya. Sebuah organisasi yang bahkan sebelumnya begitu saya benci karena eksklusivitasnya. Dan sekarang saya di minta untuk menjadi pemimpin di sana.

Permasalahan keuangan menjadi catatan pertama saya kali ini walaupun masalah ini bukanlah yang utama. Karena pekerjaan terberat saya adalah melahirkan karakter pemimpin dengan moralitas yang kuat. Karakter “muslim Negarawan”. Bagaimana saya bisa menghidupkan organisasi sebesar ini tanpa dana sama sekali? Akhirnya mulailah saya menjalankan fungsi pemimpin yang belum pernah saya jalankan sebelumnya. Mencari sumber keuangan organisasi. Kemudian saya menginventaris semua cara yang bisa saya lakukan mulai dari proposal permohonan dana, berkunjung ke alumni, hingga mengikutkan beberapa lomba.

Janji Allah itu ternyata pasti. Jika kamu meminta kepada-Nya, maka Allah akan memberikan apa yang kamu minta. Dana yang berhasil kami kumpulkan dalam beberapa bulan ternyata sudah sangat banyak. Bahkan sekarang melahirkan sebuah perusahaan yang dapat menjadi sumber dana tetap organisasi. Nah, di sinilah letak dilema yang saya temukan. Kesalahan yang pernah saya perbuat selama menjadi pemimpin sebelumnya kembali saya ulangi. Saya tidak berpikir keras dalam keberlangsungan dan kemaslahatan organisasi.

Begitu organisasi yang saya pimpin ini menjadi besar dengan usaha pengolahan lelenya. Ada banyak sekali tawaran yang masuk kepada kami untuk dapat menjalankan usaha ini agar berjalan dengan lancar. Ada yang menawarkan membuatkan website. Ada yang menawarkan suplai 80 kolam lele. Dan yang paling menggiurkan saya adalah tawaran mendirikan perusahaan pemasaran yang hingga akhirnya saya tidak berpikir banyak untuk ini. Tawaran pun langsung saya terima mengingat dampak yang dihasilkanpun begitu besar. Perusahaan pun berdiri dengan berbagai kesepakatan yang telah kita buat di awal.

Berjalan 3 minggu, kejanggalan akibat pendirian perusahaan ini pun mulai terasa. Apakah kader bisa belajar banyak dari perusahaan? Apakah organisasi akan bisa tetap dapat pemasukan dari perusahaan ini? Apakah pengelola perusahaan akan mengkhianati dan akhirnya menelantarkan kami? Berbagai pertanyaan itu mulai bermunculan di saat perusahaan sudah mulai jalan. Kenapa hal ini tidak pernah saya pikirkan sebelumnya? Di sinilah kepemimpinan saya kembali diuji. Saya di hadapkan dengan permasalahan besar ini.

Keputusan telah di ambil. Sekarang bukanlah waktunya untuk penyesalan dan kembali ke belakang. Saya harus mempertanggungjawabkan semua keputusan yang telah saya ambil. Yang jelas, saya kembali di ingatkan bahwa keputusan sekecil apapun sebaiknya harus melalui pertimbangan yang mendalam oleh seorang pemimpin. Karena keputusan seorang pemimpin itu akan ikut membawa organisasi ini akan bisa berjalan dengan baik atau tidak. Saatnya ikhtiar dan doa. Semoga yang terbaik bisa saya berikan untuk organisasi dakwah ini. Mari Berpikir. Bismilllah..

Pandega marga, 02112011, Ba’da isya

Iklan