Demokrasi menjadi sistem pemerintahan yang digunakan oleh negara kita saat ini. Begitu juga kampus UGM yang menjadi miniatur pemerintahan di Negeri ini. Sistem pemerintahan mahasiswa di UGM mencerminkan bagaimana sistem dalam tataran yang lebih luas terbentuk. Gagalnya proses demokrasi yang ada di lingkungan mahasiswa, akan berdampak pada gagalnya pemerintahan kita beberapa tahun ke depan. Pemerintahan korup yang ada di Indonesia saat ini mencerminkan bagaimana mereka belajar berpolitik ketika masa muda. Aktivis mahasiswa 20 tahun lalu lah yang saat ini memerintah Negeri ini. Apakah kita akan mewarisi pemerintahan korup lagi ke depan? Semua ada di tangan kita sekarang.

Di lingkungan kampus, sistem demokrasi ini kemudian tercermin dalam pergantian kepemimpinan di organisasi sosial politik tingkat universitas maupun tingkat fakultas yang dikenal dengan sebutan Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Sistem pemilihan yang kemudian melibatkan mayoritas mahasiswa untuk terlibat dalam pergantian kepemimpinan di BEM. Ada yang kemudian menggunakan sistem partai kampus dan ada juga yang kemudian menggunakan jalur independen. Sistem ini lebih dikenal di UGM dengan nama Pemilihan Raya Mahasiswa (Pemira).

Apa yang kemudian menjadikan pemira ini sebuah proses yang harus diikuti oleh mahasiswa? Apa dampaknya ketika pemira ini tidak dilaksanakan? Jika kita tidak terlibat dalam proses pemira ini bagaimana? Seberapa besar perubahan yang terjadi jika saya ikut terlibat dalam proses pemilihan ini? Pertanyaan-pertanyaan inilah yang masih menjadi tanda tanya besar dan harus didobrak oleh para calon pemimpin di BEM serta panitia Pemira itu sendiri.

Banyak yg kemudian bertanya, apa sih pentingnya BEM?pertanyaan sederhana inilah yg kemudian perlu di jawab dengan berkaca pada realitas kampus saat ini. Kampus adalah tempat untuk belajar menempa diri menjadi sosok yg akan membawa perubahan di negeri ini. Kampus adalah mata air ide dan pemikiran dimana mahasiswa tumbuh bebas dalam berpikir dan mengembangkan pengaruh sosialnya. Dan kampus harus menjadi tempat yang dapat mengobati hausnya rasa keingintahuan akan ilmu pengetahuan yang terbatas aksesnya.

Tidak banyak masyarakat yang kemudian bisa menikmati berpetualang dalam nuansa intelektual di kampus. Berbanggalah kita semua telah menjadi bagian dari kehidupan kampus. Banyak yang bilang, menjadi mahasiswa adalah memasuki fase transisi untuk menuju ke dunia kerja. Fase dimana mahasiswa belajar untuk mengemban tanggung jawab sosial. Tetapi, apakah bangku kuliah di tambah rentetan buku perpustakaan serta jadwal praktikum yang padat akan dapat mengantarkan sukse menjalani fase hidup berikutnya? Tentu tidak. Organisasi mahasiswa seperti BEM menjadi sarana utama dalam pembentukan karakter kepemimpinan mahasiswa.

Fakultas MIPA, bukanlah fakultas yang kemudian banyak terlibat aktif dalam aktivitas perpolitikan. Tapi, seperti yg kita ketahui, politik ini akan dapat berpengaruh pada semua aspek kehidupan. Mau tidak mau, suka tidak suka, mahasiswa MIPA pun minimal memahami bagaimana aktivitas politik itu berpengaruh dalam kehidupan. Ketidakterlibatan mahasiswa MIPA dalam aktivitas sosial politik yang kemudian dapat menjadikan mereka mahasiswa yang apatis terhadap segala permasalahan yang ada di sekitarnya.

Nah, munculnya BEM KM FMIPA UGM diharapkan dapat mampu membuka ruang diskursus intelektual mahasiswa MIPA serta sarana kaderisasi pemimpin bangsa. Di BEM inilah mahasiswa di latih untuk memiliki rasa empati yang besar terhadap lingkungannya. BEM juga melatih kepekaan kita akan segala permasalahan yang ada di Negeri ini. BEM pula yang melatih kita berkomunikasi dengan berbagai elemen masyarakat. Aspirasi mahasiswa yang ada di MIPA juga akan mudah diperjuangkan melalui BEM. Sehingga, dimanapun lulusan mahasiswa MIPA bekerja, idealisme yang sudah terbentuk di BEM melalui rentetan aktivitasnya akan sangat bermanfaat ke depan.

Memahami arti penting BEM inilah yang mengantarkan kita kenapa kemudian harus memilih Sultan yang baik. Sekali kita salah langkah dalam memilih orang yang akan memimpin BEM ini, maka cita-cita ideal yang di harapkan dari BEM pun hanya utopis. Oleh karena itu, PEMIRA ini menjadi milik kita semua. Milik semua mahasiswa yang haus akan keingintahuan ilmu pengetahuan dan dinamika sosial politik di kampus. Karena PEMIRA bukan hanya sekadar memilih pemimpin BEM, tapi juga kuliah yang langka karena hanya kita temui 1 tahun sekali. Berpartisipasilah dan kenali calon yang akan di pilih, perhatikan track recordnya, serta analisis kapasitas kepemimpinan yang dimiliki. Selamat bersaing untuk para calon sultan yang ada. Dan semoga BEM KM FMIPA dapat membawa kebermanfaatan yang besar bagi Fakultas MIPA dan Indonesia pada umumnya.

HIDUP MAHASISWA INDONESIA…!!!

HIDUP RAKYAT INDONESIA…!!!

Iklan