Kurang lebih 2 bulan lagi, masa kepengurusan KAMMI UGM akan segera berakhir. Tepat awal mei nanti akan diadakan musyawarah Komisariat yang akan membahas PKK 2012 serta pergantian Pengurus KAMMI UGM. Tidak terasa juga sudah hampir 1 tahun saya memimpin lembaga sebesar KAMMI UGM. Pengalaman yang luar biasa tentunya bisa saya rasakan bekerja bersama orang-orang hebat dari berbagai latar belakang pendidikan, keluarga, serta sosial ekonomi yang berbeda. Akan tetapi, kami disatukan dalam 1 visi bersama, yaitu menegakkan kalimat Tauhid di muka bumi ini.

Menjadi ketua di suatu lembaga atau organisasi sudah sering saya dapatkan. Semenjak pertama menjadi presiden Partai Solusi, kemudian menjadi Ketua BEM KM FMIPA UGM, kormanit KKN Buton, hingga sekarang menjadi ketua KAMMI Komisariat UGM. Tentu tidak semudah menjalankan organisasi-organisasi sebelumnya. Dibandingkan yang lain, di KAMMI saya harus membawa visi jangka panjang untuk akhirat kelak tentunya. Di sinilah ruh yang berbeda dari kepemimpinan saya di tempat lain.

Menjalang akhir kepengurusan ini, berbaagai masalah mulai bermunculan mendera besarnya organisasi ini. Dan ada kata-kata dari salah seorang PH saya yang dengan spontan mengkritik, “Irwan itu manajer, bukan leader”. Hati saya langsung tersentak mendengar kata-kata itu. Saya juga jadi teringat kata mantan sekjen saya “Kalo kamu belum berhasil menjadi pemimpin yang baik, Allah akan kasi kamu amanah sebagai pemimpin lagi sampai kamu berhasil wan”.  Ternyata menjadi pemimpin itu tidak mudah kawan.

Selama ini saya mungkin bisa mengatur strategi beberapa kegiatan KAMMI, membagi ranah kerja yang pas untuk setiap agenda, serta menyukseskan setiap agenda dengan cara saya sendiri. Tapi ternyata saya melupakan 1 hal yang sangat identik dengan seorang pemimpin. KETELADANAN, itulah kuncinya. Saya terlalu asyik membesarkan pengaruh kepemimpinan. Saya juga terlalu asyik membesarkan nama dan eksistensi KAMMI UGM di luar. Tapi saya lupa untuk memberikan keteladanan kepada para PH dan kader KAMMI itu sendiri.

Pemimpin itu butuh keteladanan. Pernah mendengar kisah Rasulullah saat terjadinya perjanjian Hudaibiyah? ada ibrah penting yang menunjukkan keteladanan Rasulullah. Saat perjanjian berlangsung, banyak sahabat yang kecewa dengan Rasulullah atas beberapa keputusan yang di ambilnya. Sehingga sahabat tidak mau lagi mendengar perintah Rasulullah SAW. Terbukti ketika itu Rasulullah meminta para sahabat untuk memotong hewan kurban dan rambutnya sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. Apa yang terjadi?ternyata tidak ada seorangpun yang bergegas untuk mengikuti perintah Rasulullah. Rasulullah pun bersedih dan masuk ke perkemahan tempat Ummu Salamah, istri beliau berada. Hingga Ummu Salamah pun menasihati beliau, “Engkaulah yang pertama kali melakukan apa yang engkau katakan ya Rasulullah”. Setelah itu Rasul pun keluar dan segera memoton rambutnya serta kambing yang dimilikinya. Melihat yang dilakukan oleh Rasulullah, para sahabat pun terheran dan kemudian segera mengikuti apa yang Rasulullah kerjakan.

Kepemimpinan itu butuh keteladanan. Mungkin kebiasaan saya selama ini yang terlalu santai dengan mereka, terlalu sering bercanda berdampak tidak baik juga untuk keteladanan yang saya miliki. Saya hampir sangat jarang mmeberikan keteladanan yang baik untuk mereka. Semoga di sisa 2 bulan ini saya bisa memperbaiki kesalahan yang pernah saya perbuat. Bismillah.

Iklan