Di liburan ini, saya ingin sedikit menceritakan tentang kondisi internal KAMMI UGM, mungkin yang sedikit ini semoga bisa menjadi jalan menemukan berbagai solusi dari permasalahan yang ada. Bukan sebuah curhatan pribadi, tapi akumulasi dari berbagai kejadian dan peristiwa yang terjadi akhir-akhir ini. Di sebut curhatan juga gak masalah sih. Bukan tulisan resmi, tapi mencoba bercerita dengan bahasa santai.

Baiklah, dimulai dari besarnya nama KAMMI UGM di tataran KAMMI se-Indonesia. Ada yang bilang, “KAMMI UGM adalah komisariat ideal saat ini”. Gerakan KAMMI Mengajar yang masuk Kick Andy serta buat iklan Fatigon turut membesarkan nama KAMMI. Itu yang membuat nama KAMMI UGM begitu besar tahun ini. Bahkan beberapa komsat di Indonesia datang studi banding untuk mengetahui KAMMI UGM lebih jauh. Mulai dari makasar, palangkaraya, salatiga, UIN jakarta, UNDIP, dll.

Namun, di balik itu semua, KAMMI UGM begitu kropos di internal. Pengelolaan kaderisasi menjadi masalah utama di sini. Seharusnya KAMMI Komisariat yang fokus di bidang pengkaderan tapi ternyata sangat kropos dan justru besar di bidang lainnya. Dari segi kuantitas, tahun ini sudah memecahkan rekor dengan 14 peserta DM1 yang di selenggarakan UGM. Dari segi kualitas pun sudah terlihat bagaimana perjuangan kader KAMMI dalam pemira kemarin yang berdampak pada kekalahan pemira.

Bagi saya, semua ini bukan datang tiba-tiba karena takdir Allah. Tapi ini juga bagian dari manajemen dakwah di kampus. Apa mungkin Allah murka karena para punggawanya sudah tidak lagi menghidupkan AlQur’an dalam kesehariannya?entahlah. Tapi sekarang, kita harus berbenah. minimal menyiapkan sistem kaderisasi yang kokoh untuk kepengurusan berikutnya. Bismilllah

Iklan