Bung Karno pernah mengatakan dalam salah satu pidatonya, “JAS MERAH (Jangan sekali-kali melupakan sejarah).” Sebuah kalimat yang dapat menggugah semangat kita agar sejarah perjuangan para pahlawan kita dalam membangun negeri ini tidak pernah kita lupakan. Tercatat banyak sekali peristiwa bersejarah sebagai jalan perjuangan bangsa kita untuk menemukan jati dirinya. Lahirnya Organisasi Budi Oetomo pada 20 Mei 1908, Sumpah pemuda 28 oktober 1928, Proklamasi kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, dan berbagai peristiwa penting lainnya. Jika dirunut semuanya, tentu ada pahlawan di balik peristiwa bersejarah ini semua. Lantas, masih bisakah bangsa ini melahirkan seorang pahlawan ditengah krisis multidimensional yang melanda negeri ini?

Momentum 20 Mei diperingati oleh anak bangsa sebagai Hari kebangkitan Nasional. Lebih dari 1 abad silam atau sekitar 102 tahun, telah lahir sebuah organisasi Boedi Oetomo yang memiliki cita-cita untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Sehingga, saat itu banyak pemuda-pemuda Indonesia yang mulai aktif memikirkan nasib bangsa ini. Setelah lebih dari satu abad lamanya, ternyata bangsa ini masih berada dalam jurang keterpurukan.

Waktu 1 abad lebih ternyata bukan sebuah ukuran bahwa suatu bangsa yang sedang terpuruk ini bisa bangkit. Permasalahan besar negeri ini justru muncul ketika bangsa kita memperingati Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei. Tercatat ada kasus Bailout Century yang hingga kini belum terselesaikan, CAFTA yang mengancam nasib para pekerja Indonesia dengan bebasnya perdagangan dari China, Sistem Pendidikan yag belum jelas pasca dibatalkannya UU BHP, dan masih banyak lagi. Berbagai permasalahan tersebut semakin menambah terpuruknya bangsa ini.

Melalui momentum kebangkitan inilah, kita harus sudah dapat mengambil peran dalam menyelesaikan permasalahan bangsa ini. Peran dan fungsi mahasiswa sebagai Agent of Change, Moral Force, dan Iron Stock mewajibkan mahasiswa berpikir lebih dari sekadar kuliah. Berpikir untuk mau peduli dalam memberikan solusi permasalahan bangsa. Bangsa ini bisa maju bukan hanya oleh pemerintah, tapi oleh semua elemen masyarakat di dalamnya termasuk oleh mahasiswa. Jika mahasiswa sekarang tidak pernah memikirkan nasib bangsa ini, lalu di tangan siapa kita akan berharap?

Dengan berbagai permasalahan yang dimiliki Indonesia saat ini, kita sangat merindukan lahirnya seorang pahlawan muda dari bangku-bangku kuliah. Lahirnya seorang saintis negarawan di negeri ini merupakan hal yang sangat kita cita-citakan. Saintis dimaksudkan di sini adalah seorang ilmwan yang sangat menguasai ilmu dasarnya. Tapi, seoang saintis saja ternyata tidak cukup untuk meningkatkan derajat Indonesia. Faktanya, banyak saintis-saintis Indonesia yang malah menggunakan ilmunya untuk hal-hal yang malah merugikan bangsa ini.

Oleh karena itulah diperlukan juga seorang negarawan. Orang yang mampu memikirkan nasib negaranya dan mau berkontribusi besar buat negaranya. Jika kedua sifat ini digabungkan, akan lahirlah sebuah sifat yang memiliki makna besar, saintis negarawan. pahlawan yang akan dapat membawa negeri ini menjadi lebih maju dengan berbagai karya-karya besar keilmuannya.

Melalui momentum kebangkitan ini, mari kita tunjukkan kontribusi besar kita buat bangsa yang sedang terpuruk ini. Karena sejarah besar negeri ini juga berawal dari semangat juang para pemudanya. Jangan pernah merasa lelah dengan semua aktivitasmu, dan tetaplah bergerak hingga kelelahan itu menghampirimu karena walau bagaimanapun, kita akan harus tetap bergerak karena dengan bergeraklah kita akan melakukan perubahan. Bangkit MIPAku, bangkit Bangsaku.

 

_Irwan Rizadi_

20 Mei 2010

Iklan