Serial : Mengapa Aku Mencintai KAMMI

Tidak banyak aku mendengar apa itu KAMMI dan gerakan mahasiswa Islam lainnya. Karena aku sendiri berasal dari daerah kecil di timur Indonesia yang belum ada organisasi semacam KAMMI, HMI, dan yang lainnya. Tahun kedua aku kuliah pun tidak banyak yang mengenalkanku apa itu KAMMI. Tiba saatnya rasa ingin tahuku membawaku mengetahui KAMMI.

Saat itu, aku aktif sebagai pengurus harian di BEM Fakultas MIPA UGM. Sebagian besar orang yang ada di BEM belakangan aku ketahui sebagai kader KAMMI. Sampai tiba saat aku melihat percakapan ketua BEM saat itu yang mengajak beberapa pengurus harian lainnya untuk bergabung dengan KAMMI. Tapi aku heran, kenapa aku tidak diikutkan saat itu? Apa aku kurang sholeh untuk bergabung di KAMMI? atau kenapa? Timbul perasaan iri dalam hatiku yang membawaku mencari tahu apa itu KAMMI.

Waktu pun terus berlalu hingga aku pun belum menemukan jawaban yang tepat dan lengkap tentang KAMMI. Memasuki semester 5, di akhir tahun 2009, aku akhirnya melihat sebuah poster publikasi Dauroh Marhalah 1 KAMMI. Aku pun tertarik mengikutinya dan mencoba mendaftarkan diri. Hingga ada seorang akhwat di MIPA yang juga salah satu petinggi di BEM MIPA yaitu mba Winda. Beliaulah orang yang paling berpengaruh mengenalkan KAMMI dan mengajakku bergabung di KAMMI. Banyak pertanyaan aku lontarkan padanya untuk mengetahui seluk beluk mengenai organisasi yang aku anggap keren saat itu.

Aku adalah tipikal orang yang memiliki semangat belajar tinggi. Sehingga saat itu aku mencari berbagai media dan sarana yang dapat menjadikanku memenuhi semua kekuranganku saat itu. Aku ingin menjadi seorang pemimpin yang tangguh. Aku pun ingin menjadi orang dengan jaringan yang luas. Ternyata aku sadari dari 4 semester yang telah aku lalui, belum banyak perubahan pada diriku.

Diskusiku dengan mba winda saat itu akhirnya meyakinkanku bahwa aku akan mendapatkan itu semua dengan bergabung di KAMMI. Serangkaian proses pendaftaran pun aku ikuti hingga tiba saatnya aku mengikuti DM1. Saat itu, aku masih belum puas dengan jawaban yang diberikan Mba Winda mengenai KAMMI, sehingga akupun mengikuti DM1 dalam keadaan terpaksa. Selama 3 hari DM1 aku lewati dengan perasaan yang belum sepenuhnya ikhlas.

Materi demi materi aku lewati tanpa banyak terlibat aktif dalam setiap diskusi. Perasaan malu juga menguat dalam batinku, karena saat itu, hanya aku dan 2 orang ikhwan lainnya yang sudah semester 5. Sedangkan, teman-temanku yang lainnya masih semester 3, bahkan ada yang masih semester 1. Sedikit minder, tapi bagiku semua itu adalah prosesku belajar mengenal apa itu KAMMI dan dakwah yang sebenarnya.

Lulus dari DM1, kecintaanku terhadap KAMMI pun tidak bertambah. Aku bahkan semakin membencinya karena beberapa opini yang menyuarakan bahwa kader KAMMI itu eksklusif. Padahal aku sendiri adalah orang humas yang harus bergaul dengan banyak orang. Sehingga akupun menyembunyikan identitasku sebagai kader KAMMI. Amanahku sebagai ketua BEM FMIPA saat itu akhirnya menjadikanku tidak bisa beraktivitas banyak di KAMMI. Perlahan demi perlahan pun pemahamanku tetang KAMMI memudar. Aku semakin jauh dengan KAMMI dan segala aktivitasnya. Itulah pertemuanku pertamaku dengan organisasi yang begitu aku cintai saat ini.

(Continued)

Iklan