Kehidupan sebelum Kuliah

Tak pernah menyangka dan memang tak ada dalam rencana hidupku akan kuliah di  jurusan statistika UGM. Tapi itulah kemudian takdir yang membawaku menemukan jalan dakwahku. Di kampus besar yang penuh dengan nuansa islami. Aku benar-benar merasakan indahnya Islam di kampus ini. Begitu berbeda dengan kondisi daerah dan sekolahku sebelumnya.

Aku bukanlah seorang organisatoris sebelum kuliah di UGM. Tak ada organisasi yang benar-benar aku tekuni semasa SD hingga SMA di Sumbawa. Pernah mendaftar dalam sebuah organisasi penelitian, tapi kemudian aku tidak merasa nyaman dan kembali pada aktivitas pribadiku. Aku seorang yang sangat introvert terhadap lingkunganku. Karakterku yang pemalu, pendiam, dan sangat anti bersosialisasi menjadikan aku pribadi yang tak berdaya saat itu.

Selain aktivitas di sekolah, lingkungan rumahku juga jauh dari masyarakat sekitar, karena di sekelilingku masih terhampar sawah yang luas. Hal ini berdampak pada kekurangan sosialisasiku dalam pergaulan dengan teman sebaya. Bersyukur aku masih memiliki sahabat baik di sekolah yang akhirnya melibatkanku pada sekelompok klub motor saat itu. Aku pun merasa nyaman dalam aktivitas modofikasi motor tiap harinya. Bergaul di tengah para pecandu rokok dan minuman keras walaupun aku sendiri tidak mudah tergoda untuk menikmati rokok dan minuman keras tersebut. Jauh sekali dari aktivitas islami.

Bukan hanya itu, kehidupan remaja yang dekat dengan lawan jenis juga tidak luput aku lakukan. Hampir tiap minggu aku bisa jalan berdua dengan cewek cantik di sekolahku. Jika aku membayangkannya saat ini, betapa malunya aku bahwa ternyata Allah menyaksikan kehidupan remajaku yang tidak begitu baik. Mungkin tidak seberuntung teman-teman lainnya yang pernah hidup di pesantren dan berada di lingkungan yang islami. Dari aktivitas itu, tentu saja ilmu agamaku sangat jauh dari kesiapan untuk berdakwah. Mengurus diri sendiri saja masih tidak mampu.

Aktivitas di Kampus

Di awal perkuliahan, aku aktif di beberapa organisasi mahasiswa. Namaku pernah tercatat sebagai staf di Himasta, LSiS, dan BEM MIPA. Berbagai jenis kepanitiaan aku ikuti untuk meningkatkan soft skills yang aku miliki. Semua itu aku lakukan untuk segera menutup segala kekurangan yang ada dalam pribadiku. Tentu semua orang ingin terus berproses untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Tetapi, semua memiliki kadar motivasi yang berbeda, sehingga berpengaruh juga pada output yang dihasilkan.

Aku orang yang begitu bersemangat mempelajari hal-hal yang baru. Masih teringat ketika pertama kali aku diberikan amanah untuk menjadi salah satu Pengurus Harian di BEM pada awal 2009 lalu. Aku sempat menolak karena keinginanku lebih dari sekadar Pengurus Harian. Aku ingin menjadi ketua Himasta saat itu. Tapi, sekali lagi aku tidak bisa melawan takdir yang sudah Allah tetapkan. Aku pun memilih amanah di BEM. Mulai saat itu, aku dedikasikan diriku untuk terlibat aktif di BEM. Perlahan pun aku mengurangi aktivitasku di organisasi lainnya yang sempat aku ikuti di tahun pertama perkuliahan.

Amanah inilah yang akhirnya memperkenalkanku dengan aktivitas dakwah di kampus. Mungkin terasa aneh, BEM yang dikenal sebagai lembaga sosial politik, tapi kenapa bisa mengenal aktivitas dakwah? Mungkin masyarakat atau mahasiswa lainnya mengenal BEM sebagai lembaga sosial politik yang paling hobi demo. Membuat kemacetan di jalan, hanya bisa mengkritik, dan berbagai sentimen negatif lainnya. Tapi, aku menemukan sesuatu yang berbeda di BEM. Ada secercah cahaya Islam yang membawa perubahan besar dalam hidupku.

 

Perkenalanku dengan Aktivitas Dakwah

Aktivitasku di jalan dakwah berawal dari keikutsertaanku pada sebuah forum tarbiyah di Fakultas. Entah apa yang mendorongku mengikuti acara tersebut, padahal aku sama sekali tidak termasuk dari anggota jamaah tarbiyah ataupun jamaah dakwah lainnya. Walaupun hampir semua orang yang hadir dalam acara tersebut aku kenal, karena mereka semua orang yang aktif di organisasi mahasiswa di Fakultas.

Semua bermula ketika sekjend di BEM menanyakan kesibukanku di akhir pekan ini. Mengetahui keluangan waktuku di akhir pekan, beliau pun mengundangku untuk mengikuti acara STARCO (Sains Tarbiyah Community). Aku menjadi orang asing saat itu. Ketika pembawa acara menanyakan, “Ada yang tidak tahu apa itu STARCO?”. Sontak, ternyata hanya aku seorang yang angkat tangan menunjukkan ketidaktahuanku. Saat itu aku malu, karena adik-adik angkatanku bahkan sudah mengetahuinya, sedangkan aku yang sudah di tahun kedua kuliah masih saja tidak paham banyak hal.

Rasa malu itulah yang kemudian membawaku untuk mencari tahu semua keingintahuanku tentang STARCO dan Tarbiyah pasca aktivitas hari itu. Dari kegiatan tersebut, aku juga kemudian diminta bergabung dengan kelompok tarbiyah angkatanku. Walaupun terasa aneh, tapi aku benar-benar menemukan semangat hidupku dalam kelompok tarbiyah tersebut. Aku semakin menemukan jalan hidupku. Bahkan aku tidak pernah menyangka bisa menjadi seperti sekarang ini. Mungkin ungkapan Dr. Yusuf Qardhawi di bawah ini sudah tepat untuk merefleksikan diriku saat ini.

 

“Aku ingin berterus terang mengatakan, bahwa aku memperoleh manfaat agama yang begitu besar dari Al Ikhwan Al Muslimun. Aku memperoleh  faedah yang sangat banyak dari dakwah ikhwan. Dakwah ikhwan telah memperluas cakrawala pikiranku memahami Islam secara utuh, sebagaimana disayariatkan Allah SWT, sebagaimana tertera dalam Kitab-Nya, seperti diserukan Rasul-Nya dan dipahami oleh para sahabatnya. Islam adalah agama dan dunia, dakwah dan negara, aqidah dan syariat, ibadah dan kepemimpinan, mushaf dan pedang. “ (Dr. Yusuf Qardhawi)

            Rasa syukur yang begitu besar pun aku rasakan ketika aku hampir masuk dalam jaringan Negara Islam Indonesia (NII). Pengetahuan yang minim tentang ilmu agama membuatku mudah terpengaruh dengan berbagai macam ajakan untuk belajar agama. Seperti apa perkenalanku dengan NII mungkin akan aku jelaskan berikutnya. Tapi, pasca perkenalanku dengan NII, aku semakin takut sama Allah. Bahkan saat itulah aku membeli Al-Qur’an terjemahan pertamaku selama hidup. Aku semakin haus dengan ilmu agama mulai saat itu.

Berhubung saat itu aku sudah mengenal beberapa rekan-rekan yang terlibat di jalan dakwah, aku pun minta untuk diikutkan dalam forum “ngaji” pekanannya. Aku pun perlahan mulai terlibat dalam aktivitas yang diikuti temanku saat itu. Dan mulai saat itu lah aku kemudian semakin jauh terlibat dalam aktivitas kemahasiswaan di kampus.

Perlahan aku mulai dipercaya menjadi panitia dalam beberapa kegiatan besar di kampus. Awal semester 5 pun aku bergabung menjadi anggota organisasi ekstra (KAMMI) di kampus. Bahkan kemudian amanah demi amanah aku jalani dengan penuh semangat untuk memperjuangkan agama Allah. Tercatat aku pun pernah menjadi Presiden Partai Solusi FMIPA di tahun yang sama. Kemudian di amanahi sebagai Ketua BEM FMIPA UGM dalam pemilihan Raya Mahasiswa 2010. Tahun 2011 pun aku menjadi kandidat Presiden Mahasiswa UGM yang menempati urutan kedua. Berikutnya aku dipercaya kembali menjadi kepala departemen Humas KAMMI DIY. Terakhir, aku kembali terpilih sebagai ketua KAMMI Komisariat UGM periode 2011/2012.

Amanah yang aku jalani selama di kampus tentu saja bukan hanya sekadar mendapatkan popularitas ataupun kenikmatan dunia lainnya. Walaupun aku merasakan perubahan besar dalam diriku. Semula dari pribadi yang demam panggung, aku jadi berani untuk berpidato di depan ribuan orang. Semula pribadi yang sangat tertutup dengan lingkungan, aku malah semakin asyik untuk membangun jaringan ke seluruh Indonesia. Aku menganggap semua yang kuperoleh saat ini berkat keterlibatanku di jalan dakwah. Sudah jelas dalam Firman Allah Q.S Muhammad : 7 bahwa “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu menolong Agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu.” Ayat itulah kemudian yang menjadi peneguhku di jalan ini.

Terakhir, aku meyakini jalan ini masih panjang, penuh rintangan, dan amat sedikit pejuangnya. Tapi, itu bukanlah rintangan yang perlu dirisaukan. Banyak kenikmatan yang menantimu di dunia dan di akhirat kelak. Sekali kamu memilih untuk bergerak di jalan Allah, jangan pernah menyerah dan teruslah bergerak. Karena Allah akan selalu bersama hamba-Nya yang terus memperjuangkan Agama-Nya. Semoga setiap orang yang sudah terlibat di jalan dakwah diberikan keistiqomahan dalam hatinya.

Iklan