Beberapa hari yang lalu aku sempat diwawancarai oleh wartawan metro TV mengenai pendapat mahasiswa atas kenaikan harga kedelai. Kebetulan wawancara itu masuk dalam berita “Suara Anda” yang ditayangkan secara live oleh Metro TV. Sebagai seorang mahasiswa yang sama sekali tidak berlatar belakang ilmu pangan, mungkin isu seperti ini bukanlah isu yang familiar. Tapi, sebagai masyarakat Indonesia, berita ini menjadi heboh karena akan berakibat pada terhentinya produksi tahu dan tempe di Indonesia.

Indonesia pernah terkenal sebagai negara agraris karena daratannya yang masih luas dan beriklim tropis. Sangat cocok sekali ditanam berbagai jenis tanaman pangan. Sehingga, kita tidak perlu lagi untuk mengimpor produk pangan dari negara lain.

Sekarang, tampaknya Indonesia tidak pantas lagi disebut sebagai negara agraris. Berdasarkan data BPS, selama semester I 2011 (Januari-Juni), Indonesia telah mengimpor bahan pangan, baik mentah maupun olahan, senilai 5,36 milliar dollar AS atau sekitar 45 triliun rupiah dengan volume impor mencapai 11,33 juta ton. BPS mencatat, Indonesia mengimpor sedikitnya 28 komoditi pangan mulai dari beras, jagung, kedelai, gandum,terigu, gula pasir, gula tebu, daging sapi, daging ayam, mentega, minyak goreng, susu, bawang merah, bawang putih, telur,kelapa, kelapa sawit, lada, teh,kopi, cengkeh, kakao, cabai segar dingin, cabai kering tumbuk, cabai awet, tembakau dan bahkan singkong alias ubi kayu juga diimpor.

Di pertengahan 2012 ini, Indonesia mulai mengalami kelangkaan kedelai yang hampi 2/3 konsumsi kita berasal dari Amerika. Produksi dalam negeri hanya memenuhi 1/3 dari kebutuhan rakyat Indonesia. Di saat Amerika mengalami kekeringan seperti sekarang ini, Indonesia akan kena dampaknya secara sistemik. Pasokan kedelai menurun sehingga pemerintah terpaksa menaikkan harga pasaran kedelai mencapai dari Rp5.500 hingga mencapai angka Rp 8000. Kenaikan ini sangat jauh dari kenaikan harga kedelai tahun-tahun sebelumnya.

Siapa yang pantas disalahkan dalam permasalahan ini? Mungkin semua pihak juga memiliki andil bersama dalam mewujudkan swasembada pengan di negeri ini. Kenaikan harga kedelai ini sangat dirasakan kerugiannya oleh produsen tahu dan tempe yang menggunakan bahan dasar kedelai. Makanan yang menjadi konsumsi rakyat kecil kini tidak bisa lagi dinikmati dengan harga murah. Sehingga, beberapa pengusaha tahu dan tempe pun terpaksa untuk menutup usahanya dan beralih ke usaha lain.

Inilah Indonesia, Negara agraris yang paling hobi mengimpor produk pangan. Swasembada pangan harus segera dipikirkan dengan serius oleh pemerintah kita. Jika yang dibutuhkan lahan yang luas, maka Wilayah Indonesia masih terbentang luas dari Sabang sampai Merauke. Jika yang dibutuhkan tenaga petani, maka rakyat Indonesia yang pengangguran pun saya yakin akan siap bekerja. Kuncinya adalah keberanian Pemerintah untuk menghentikan segala aktivitas impor pangan dan mulai untuk revolusi pertanian kita dengan swasembada pengan.

Semoga dengan krisis kedelai tahun ini memberikan pelajaran berharga buat pemerintah Indonesia untuk segera mengakhiri tradisi impor pangan. INDONESIA BISA.!!!

Iklan