Dulu aku iri melihat temanku yang berpenampilan “gaul”. Kini aku lebih iri melihat penampilan temanku yang selalu rapi mengenakan baju kokonya.

Dulu aku iri dengan teman-temanku yang menjadi vokalis atau personel sebuah Band. Kini aku lebih iri melihat seorang Dai yang ceramah di depan para jamaah sholat. Mengajarkan tentang agama.

Dulu aku iri melihat temanku yang dapat menghapal banyak lirik lagi. Kini aku lebih iri melihat temanku yang hafalan Al-Qur’an dan haditsnya yang sangat banyak.

Dulu aku iri melihat temanku yang pintar ilmu matematika. Kini aku lebih iri melihat temanku yang ilmu agamanya luas, sehingga bisa bermanfaat untuk dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Dulu aku iri melihat temanku yang punya pacar cantik dan sexi. Kini aku lebih iri melihat seseorang punya istri yang sholehah, tanpa harus mengenal aktivitas pacaran.

Dulu aku iri melihat temanku yang kaya. Kini aku lebih iri melihat temanku yang sudah bisa mandiri dalam finansial walaupun masih berpenghasilan kecil.

Dulu aku iri melihat temanku yang ke sekolah mengendarai mobil. Kini aku lebih iri melihat kesederhanaan temanku yang ke kampus jalan kaki untuk menuntut ilmu.

Dulu aku iri melihat temanku yang waktu luangnya di gunakan untuk jalan-jalan dan foya-foya. Kini aku lebih iri melihat temanku yang tak pernah terlihat tak membaca Al Qur’an dalam waktu luangnya.

Dulu aku iri melihat temanku yang pandai berbahasa Inggris. Kini aku lebih iri melihat temanku begitu menguasai bahasa Arab.

 

Itulah hidup. Hidup harus selalu berkembang. Hidup harus lebih baik dari sebelumnya. Hidup mengajarkan kita akan arti sebuah perubahan. Perubahan itu memang berat, tapi bukan tidak mungkin kita berubah. Life is Never Flat.

Iklan