Jika engkau istri yang sholehah, takkan kubiarkan sejumputpun barang haram masuk ke tubuhmu dan tubuh anak-anakmu.

Jika engkau istri yang sholehah, engkau takkan rela ada api menjilat kulitmu yang halus dan cantik kelak di neraka Allah, serta menjilat kulit anak-anakmu yang lembut.

Jika engkau istri sholehah, tentu berpuasa lebih baik bagimu dari pada ngemil kerikil neraka.

Jika engkau istri sholehah, jangan izinkan suamimu tertuntut untuk mengais-ngais yang haram di antara sampah dunia.

Jika engkau istri sholehah, engkau akan menyemangatinya dengan Allah, dan bukan dengan mengatakan, “Kapan sih kamu bisa membahagiakan istri?”

Jika engkau istri sholehah, yang akan kau katakan ketika suamimu berangkat adalah, “Selamat berjuang suamiku tercinta. Segala kelelahanmu bekerja menjemput yang halal dari-Nya akan dibalas Allah dengan pijatan lembut di Surga. Di sanalah kita menikmati setiap jerih upaya. Pergilah dengan ridho Allah dan pulanglah dengan BarakahNya. Kami di rumah lebih ridho berlapar-lapar dengan perut dililit batu. Kami insya Allah kuat untuk itu. Yang kami tidak mampu adalah didihan api neraka, minuman panas membakar, buah zaqqum yang menggidikkan, darah, nanah, dan segala siksa yang tiada akhirnya.”

Jika engkau istri yang sholehah, yang akan kau katakan ketika ia pulang adalah, “Jujurlah pada Allah Sayang. Dari mana kau jemput ini semua? Dari surgakah, hingga kelak kita akan bersama menikmati yang lebih banyak di sana? Jika tidak, KEMBALIKANLAH. Sungguh rumah reot kita terlalu berharga untuk dimasuki barang hina meski emas, perak, dan berlian bentuknya.”

“Aku dan anak-anakmu memang menghajatkan rezeki Allah, tapi hanya yang halal. Aku dan anak-anakmu menghajatkan banyak kebutuhan, tapi kami lebih mencintai keberkahan. Qarun telah terbenam. Fir’aun telah tenggelam. Bumi dan langit tidak menangisi mereka. Tetapi adalah harapan kita berdua, untuk menemui Rasulullah di telaganya. Kelak segala kehausan sirna jia kita diberi minum olehnya.”

“Bersemangatlah suamiku, untuk menjemput barakahnya. Do’a kami bersamamu.”

(Salim A. Fillah)

 

Untukmu calon istri sholehahku, perhiasan terbaik dunia dimanapun kamu berada kini. Semoga aku bisa menjemputmu kelak dengan cara yang baik.

_Di tengah ketakberdayaan Badan_

Pare, 2 Nov 2012

Iklan