Hari ini saya akan kembali masuk kerja dengan kondisi Alhamdulillah telah pulih sehat. Beberapa hari yang lalu saya sempat merepotkan dan mengkhawatirkan beberapa orang terdekat saya karena kondisi kesehatan saya. Di tambah jauhnya lokasi kantor saya dari teman-teman dan keluarga terdekat. Ya, diperantauan baru ini tentu banyak tantangan. Saya sangat merindukan jogja dengan segala dinamikanya yang telah mendidik saya selama 5 tahun ini. Baiklah, tulisan ini bukan untuk saya cerita masalah pribadi saya. Tetapi ada yang ingin saya ceritakan dan mungkin bias kita pikirkan solusi yang bias kita ambil ke depan.

Saat ini saya bekerja di lingkungan pabrik peternakan terbesar di Indonesia. Saya tidak bekerja di lingkungan pabrik, tapi kerja di bagian olah data statistic laboratorium perusahaan. Dalam interaksi saya sehari-hari dengan beberapa pekerja baik karyawan kantor maupun karyawan pabrik, selalu saja ada saya temukan kekecewaan atau ketidaknyamanan dalam bekerja.

Sebagai pekerja kantoran, ketidaknyamanan ini pula yang buat saya jatuh sakit beberapa hari ini. Belum terbiasanya dengan aktivitas monoton yang harus duduk rapi di depan computer selama 8 jam sehari membuat otak dan badan saya cukup kelelahan. Badan otomatis akan kelelahan, baik karena kesalahan dalam duduk atau kelelahan mata yang memandang computer tanpa pelindung radiasi. Kelelahan otak karena saya yang sebelumnya terbiasa dalam mobilitas tinggi harus terkungkung dalam keadaan mobilitas nol.

Hal ini juga bahkan dirasakan oleh teman-teman saya yang bahkan dulunya mereka bukanlah seorang aktivis dengan mobilitas tinggi. Mereka mulai merasakan ketidaknyamanan dalam bekerja dengan berbagai alas an yang dikemukakan. Tetepi, kami yang bekerja di kantor seharusnya lebih bersyukur dibandingkan beberapa teman kos saya yang bekerja sebagai buruh pabrik. Hampir setiap hari saya mendengar keluhan mereka.

Kami memang mengalamai diskriminasi perlakuan dan pelayanan. Awalnya saya merasa ingin resign dan mencari pekerjaan lain atau mungkin ingin menciptakan lapangan pekerjaan baru. Nampaknya saya harus bersabar dulu untuk mewujudkan cita-cita saya membangun daerah. Saya juga harus bersyukur karena kondisi saya ternyata masih lebih baik dibandingkan ribuan buruh lainnya dalam menjemput rezeki Allah.

Beberapa hal yang ingin saya soroti dalam masalah ini adalah kurangnya perhatian perusahaan dalam memperhatikan Sumber Daya Manusia yang memajukan perusahaan. Terdapat diskrimanasi yang tinggi antara pegawai kantor dan buruh produksi. Inilah mengapa selalu saja banyak keluhan pada karyawan. Bagi perusahaan, mungkin ini bukan masalah besar, karena bagi mereka masih banyak pengangguran di Indonesia yang siap menggantikan mereka jika mereka ingin keluar dari perusahaan ini. Sehingga mau tidak mau mereka diharuskan bertahan dalam kondisi yang tak menentu. Bahkan adan yang sudah bertahun-tahun, bahkan belasan tahun tanpa kejelasan apakah ke depannya akan menjadi karyawan tetap.

Hal inilah yang merisaukan saya beberapa hari ini. Saya belum bias memberikan sesuatu yang berarti buat mereka. Saya hanya bias mendengar setiap keluhan saudara-saudara saya. Dalam hal ini, saya tahu bahwa perusahaan tentu ingin melakukan penghematan besar-besaran untuk mengurangi pengeluaran yang tidak perlu, sekalipun itu untuk kesejahteraan karyawan. Bagi saya, ini bukanlah masalah kecil. Perusahaan perlu memperhatikan emosional dan spiritualitas para karyawannya.

Beberapa saran yang ingin saya sampaikan ke depan adalah adanya pengelolaan emosional karyawan sehingga bias tersalurkan dengan baik. Perusahaan perlu memberikan pelatihan kerohanian baik berupa tabligh Akbar atau Training motivasi. Hal ini sangat penting bagi karyawan dalam menjaga semangat mereka bekerja. Ini juga tentu akan berbanding lurus dengan kinerja karyawan. Karyawan yang bekerja dengan hati gembira tentu akan menghasilkan produk yang lebih baik dibandingkan bekerja dengan perasaan penuh keluh kesah.

Tentu saja hal ini juga akan lebih efektif dibandingkan perusahaan harus mencari orang baru tiap tahunnya dan kembali memberikan training kerja dari awal lagi. Tulisan ngalur ngidul ini hanyalah sebuah ocehan dari saya sebagai karyawan pabrik saat ini. Saya meyakini belum banyak yang bias saya lakukan dengan posisi saya sebagai karyawan kontrak saat ini. Dan di sini bukanlah cita-cita saya.Suatu saat saya harus mendirikan perusahaan peternakan ini di Sumbawa. Cita-cita saya masih saya pegang teguh untuk memberdayakan Sumber Daya Alam Sumbawa dengan tenaga local yang berkualitas.

Iklan