_Catatan Pendamping Sekolah Dompet Dhuafa_

DSCN0023Tepat pukul 06.30 WITA aku tiba di sekolah. Aktivitas belajar mengajar di sekolah dimulai pukul 07.15. Saat aku tiba di sekolah, sudah ada beberapa siswa yang juga hadir lebih awal. Sedangkan guru dan karyawan belum satupun terlihat. Aku sempat tersenyum dalam hati melihat kedisiplinan siswa masuk sekolah. Artinya, tidak susah untuk lebih meningkatkan kedisiplinan siswa mengenai waktu.

Oleh karena kegiatan belajar masih cukup lama di mulai, kusempatkan waktuku untuk berkeliling sekolah melihat kondisi sekitar. Halaman sekolah sangat luas untuk tempat bermain siswa. Fasilitaspun bisa dibilang lengkap, mulai lapangan olahraga, perpustakaan, kantin, mushola dan lain-lain. Tapi, berbicara mengenai efektivitas penggunaan, belum pantas aku berbangga hati.

Di depan ruang perpustakaan tertera jam buka perpustakaan dari 08.00 – 12.00 untuk hari sabtu. Nyatanya, dari pagi hingga siang pintu perpustakaan masih tertutup. Entah karena minat siswa yang kurang dalam membaca atau petugas perpustakaan yang sering absen. Banyak hal yang kurang ketika kita berbicara mengenai efektivitas penggunaan sarana dan prasarana sekolah.

Baiklah, kita bahas lebih jauh mengenai sarana dan prasarana di kesempatan lain. Ada hal menonjol yang masih tidak layak ditunjukkan oleh sang pemberi teladan. Aku tidak bermaksud untuk menjatuhkan harga diri guru, tapi ini akan menjadi perbaikan ke depannya. Sejak pukul 06.30 aku berada di sekolah, baru pukul 07.20 ada 1 guru yang datang. Padahal seharusnya jam belajar sudah dimulai pukul 07.15.

Tidak cukup sampai di situ, ternyata guru yang datang pun tidak membawa kunci kelas dan workshop. Semua kunci dibawah oleh bagian admin yang ternyata hari ini awalnya berencana tidak masuk karena akan mengikuti Tes Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Setelah ditunggu hingga pukul 07.30, sang guru pun menelpon admin tersebut untuk segera datang ke sekolah. Lokasi rumah dan sekolahpun cukup jauh, sehingga diperlukan waktu sekitar 30 menit lagi untuk tiba di sekolah.

Cukup banyak waktu yang terbuang di pagi ini hanya untuk menunggu guru dan sang juru kunci. Miris melihat semangat belajar siswa yang tinggi dengan datang pagi hari ke sekolah, tapi tidak di dukung oleh guru dan karyawan lainnya. Jika hal ini berlangsung lama dan tidak ada perbaikan dari pihak sekolah, maka bukan tidak mungkin siswa pun akan mengabaikan kedisiplinan waktu ini.

Di hari pertama aku bertugas, sempat aku menanyakan ke kepala jurusan,”jam berapa mulai masuk sekolah pak?” Guru tersebut kemudian menjawab,” biasanya masuk pukul 07.15, tapi ada toleransi 15 menit untuk keterlambatan.” Dan sekarang aku pun memahami bahwa toleransi waktu 15 menit itu adalah keinginan guru untuk mengakomodir mereka yang sering telat. Karena nyatanya siswa bisa datang jauh lebih awal sebelum jam belajar dimulai.

Seperti inilah sekilas mengenai kedisiplinan waktu yang terlihat di sekolah pendampinganku. Aku berharap kejadian hari ini tidak mencerminkan keseharian sekolah. Jika ini yang terjadi, maka menjadi tugas besar ke depannya untuk meningkatkan kesadaran guru mengenai disiplin waktu. Semoga kita semua bisa menemukan ide kreatif lainnya untuk membangun masyarakat Indonesia melalui pendidikan. (IR)

Iklan