_Catatan Seorang Ayah (1) _

IMG-20140214-WA0001Sembilan bulan lebih saya mendampingi istri berjuang menjalani masa-masa kehamilannya. Mendorongnya untuk selalu mengonsumsi makanan yang cukup dan bergizi. Mengantarkannya untuk memeriksa kandungan ke dokter kandungan serta puskesmas. Membaca buku-buku kehamilan, berkonsultasi dengan beberapa teman yang sudah berpengalaman. Yang terpenting adalah mendorongnya secara psikologis sehingga bisa kuat dalam menjalani masa-masa kehamilannya.

Perjuangan selama sembilan bulan itu terbayar tuntas ketika pada 14 Februari 2014 pada pukul 01:15 WITA tangisan yang sudah lama kita nantikan akhirnya terdengar juga. Kebahagiaan yang begitu besar yang juga dirasakan oleh semua orang tua saat melihat sang buah hati terlahir ke dunia. Semua keluarga dan sahabat pun ikut mendoakan yang terbaik untuk anak pertama kami. Tak terlewa juga keluarga besar istri di semarang yang belum berkesempatan hadir merasakan kebahagiaan kami.

Bagi seorang ayah, melihat proses persalinan istri dari awal tiba di Rumah Bersalin hingga lahirnya seorang anak merupakan pengalaman yang sungguh berharga. Ayah mungkin tidak merasakan sakit yang dirasakan istri dalam menjalani proses persalinan. Tapi, keberadaan sang suami selama proses persalinan membantu meringankan proses persalinan secara psikologis. Seorang istri yang menjalani persalinan dengan perasaan bahagia juga akan memudahkan masa-masa tersulitnya. Bahkan, melahirkannya seorang istri merupakan bagian dari jihadnya.

Sejak awal berada di Rumah Bersalin, saya selalu menggenggam tangan istri dan menguatkannya untuk bisa menjalani proses persalinan dengan mudah. Menyediakannya air minum, beberapa potong kue, serta membacakannya Al-Qur’an untuk menenangkan hatinya. Ditangani oleh 2 orang bidan yang cukup berpengalaman, proses persalinan pun berjalan dengan lancar. Perahan istri saya diajarkan bagaimana caranya “ngedan”. Kurang dari 2 jam berada dalam ruang bersalin, akhirnya kami bisa melihat anak pertama kami lahir.

Seorang anak laki-laki yang selama ini hanya dapat kami lihat pada saat USG di dokter. Tubuhnya mungil dengan berat 2,13 kg serta panjang 48 cm. Dengan kondisi seperti ini, anak kami dikategorikan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Itu bukan masalah bagi kami, kesyukuran kami yang luar biasa karena bisa melihatnya dalam kondisi sehat. Tapi menjadi masalah bagi keluarga besar kami, sehingga disarankan untuk mengonsumsi susu formula yang dapat membantu mempercepat meningkatkan berat badan bayi. Saran ini juga dikuatkan oleh bidan yang menanganinya.

Saya dan Istri menolak ide tersebut, karena kami masih berkayakinan bahwa yang paling baik dikonsumsi oleh sang anak usia dibawah 6 bulan hanyalah ASI. ASI dengan kandungan gizi yang lengkap bisa memberikan sistem imun yang baik untuk sang anak. Pertentangan dalam keluarga pun semakin besar karena si kecil masih belum terbiasa minum ASI. Saya terus mendorong istri untuk tetap sabar dan melatih si kecil untuk mengonsumsi ASI. Alhamdulillah dihari kedua, anak kami bisa dengan begitu pintarnya mewujudkan keinginan orang tuanya untuk menikmati ASI dari Ibunya.

Melantunkan adzan di telinga kanan dan iqomah di telinga kiri sang anak pun saya lakukan sebagai bagian dari sunnah Rasulullah. Hati saya terharu bahagia menjalani semua proses itu dari awal. Tidak tidur semalaman pun tidak terasa lelah karena kebahagiaan yang begitu besar. Kami pun sepakat menamai anak pertama kami Ahmad Adli Elqahiry. Menurut seorang ustad bahasa arab saat di jogja dulu, nama tersebut bermakna orang yang terpuji itu orang yang adil dan sang penakluk tak terkalahkan.

Kami berharap, nama yang kami berikan merupakan doa untuk anak kami kelak agar bisa bermanfaat bagi orang lain dengan kepemimpinan yang dimiliki. Semoga kau tumbuh sehat dan kuat nak, sehingga bisa memberi kebanggan bagi orang tuamu.

IMG-20140214-WA0005IMG-20140214-WA0003

Iklan