_Catatan Seorang Ayah (2)_

1392517622629Hari ketiga kelahiran putra pertama kami, perkiraan bidan akhirnya nyata bahwa kulit anak kami akan kuning. Semua keluarga besar khawatir, tak terkecuali kami sebagai orang tuanya. Terlebih yang terlihat paling menguning adalah bagian wajahnya. Saya pun kemudian menghubungi kakak sepupu yang berprofesi sebagai seorang dokter. Sepulang kerja, kakak sepupu saya pun melihat kondisi anak kami. Beliau tidak dapat mendiagnosis secara objektiv, karena yang diperika ini merupakan keponakannya. Sisi psikologis yang lebih menonjol pada saat memeriksa anak kami.

Akhirnya kami memutuskan untuk memeriksakan Adli ke dokter anak yang sudah cukup berpengalaman di kota kami. Saat itu juga saya langsung menelpon bagian administrasi dokter untuk mendaftarkan anak kami. Saya, istri, ibu dan kakak sepupu saya yang dokter ikut mengantarkannya. Di perjalanan kami sangat khawatir akan terjadi sesuatu pada anak kesayangan kami.

Begitu masuk ke ruang periksa dokter, dokter langsung memeriksa badan anak kami yang masih sangat kurus. Berat badannya pun masih stagnan di 2,1 kg. Syukurnya, anak kami masih belum masuk kategori kuning. Dokter memberikan saran untuk sering menjemurnya di matahari pagi serta menambahkan susu formula untuk membantu meningkatkan berat badan sang bayi. Saran pertama langsung kami terapkan, tapi terkait saran yang kedua, kami harus berdebat panjang dengan keluarga besar untuk tetap memberikan ASI Ekslusif 6 bulan kepada anak kami.

Kami meyakini bahwa ASI merupakan asupan terbaik sang bayi dibawah 6 bulan yang higienis dan mengandung zat-zat yang sangat dibutuhkan bayi. Memang benar, susu formula bisa secara signifikan menaikkan berat badan bayi, tapi juga mengandung banyak efek samping. Karena kami keras kepala untuk tidak memberikan susu formula kepada anak kami, sehingga berbagai pandangan keluarga besar pun harus kami hadapi untuk tetap bisa memberikan ASI Eksklusif kepada anak kami.

Hari keenam kelahirannya, istri saya kembali khawatir melihat perkembangan Adli. Banyak muncul bintik-bintik kecil di seluruh tubuhnya yang berisi air dan nanah. Matanya sering sakit dan mengeluarkan banyak tai mata. Berat badannya yang masih belum juga menunjukkan kenaikan yang signifikan. Berbagai masalah ini yang membuat istri saya kembali memutuskan untuk memeriksakannya ke dokter anak yang kami datangi 3 hari yang lalu.

Keluarga besar menyalahkan kami karena tidak mau memberikan susu formula sebagai tambahan cairan yang diperlukan sang bayi. Keluarga kami mendapat pembenaran karena berat badan Adli masih stagnan. Kami pun mmeiliki pembenaran bahwadi 10 hari pertama kelahiran berat badan bayi akan stagnan atau bahkan turun untuk kemudian naik secara signifikan. Lagi-lagi kami harus beradu argumen dengan keluarga besar kami.

Hasil konsultasi ke dokter pun justru semakin meresahkan keluarga besar kami dan kembali menyalahkan kami sebagai orang tua yang dianggap merasa paling pintar. Pendapat-pendapat dokter seakan menyudutkan kami. Istri saya sampai harus nangis karena adanya banyak tekanan dari keluarga besar. Akhirnya kami pun harus menghubungi beberapa orang yang dapat menguatkan pendapat kami.

Kami meyakini bahwa setiap anak memiliki perkembangan yang berbeda-beda. Tidak bisa disamakan antara perkembangan anak yang satu dengan anak yang lainnya. Bahkan saya berkesimpulan, bidan dan dokter pun tidak mengenal anak kami sehingga sangat mungkin memberikan berbagai saran yang menurut kami tidak tepat. Bukannya kami merasa lebih pintar dari dokter atau bidan. Tapi bagi saya, dokter atau bidan memeriksa anak kami berdasarkan pengalaman banyak anak lainnya yang telah mereka tangani. Tetapi, tetap saja, orang tua atau lebih spesifik Ibu yang lebih mengetahui perkembangan anaknya.

Naluri seorang Ibu sangat dibutuhkan seorang anak untuk melalui perkembangannya dari lahir hingga dewasa nanti. Dokter atau bidan boleh memberikan saran untuk sang bayi, tapi seorang Ibu lah yang memutuskan apakah pendapat sang dokter bisa diaplikasikan atau tidak. Saya sebagai seorang ayah pun mungkin memiliki pandangan yang berseberangan dengan seorang dokter. Kewajiban saya sekarang hanyalah mendukung apapun keputusan yang diambil oleh istri saya dan selalu menguatkannya. Semoga pilihan yang kami ambil ini tepat dan insya Allah kami pun siap menanggung semua hasil dari keputusan yang telah kami ambil.

Iklan