51Pungli-ilustrasiBaru tiga bulan yang lalu saya mengurus pembuatan Kartu Keluarga (KK) serta Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk istri saya untuk pindah domisili ke Sumbawa. Dalam pengurusan administrasi di pemerintah ini, saya menemui masih banyak pungutan liar (pungli) di berbagai sektor. Kenapa saya sebut pungli? Karena sepengetahuan saya di beberapa daerah yang masuk kategori jujur, pengurusan pembuatan KK dan KTP ini gratis alias tidak dipungut biaya sama sekali. Kenapa disini masih ada pungutan?

Saya yakin bukan hanya saya yang mengalami kejadian seperti ini dan bukan hanya di lembaga ini saja. Tetapi, pungli ini sudah menjamur di berbagai lembaga pemerintahan. Saya berpikiran positif, pungli ini bukan dilakukan atas nama lembaga, tapi hanya beberapa oknum yang terlibat dalam pemerintahan. Tetapi, karena oknum yang melakukannya cukup banyak, sehingga sudah terkesan ini menjadi sesuatu yang lumrah.

Pertama, saya memulai urusan saya ditingkat paling rendah, yaitu di kelurahan. Di sini, saya meminta berkas pengurusan serta melengkapi berkas yang dibutuhkan. Dalam pengurusan singkat ini, saya diminta uang administrasi Rp 20.000,-. Kemudian, setelah berkas dari kelurahan selesai, saya lanjut untuk melengkapi tanda tangan dari kecamatan. Untuk bisa mendapatkan tanda tangan dari camat, saya harus membayar lagi Rp 20.000,-. Yang terakhir saat semua berkas saya kumpulkan di kantor Catatan Sipil, saya pun kembali diminta uang sejumlah kurang lebih Rp 50.000,-. Hampir di semua sektor pengurusan itu terdapat pungli, padahal saat istri saya mengurusnya di Semarang, semua urusan itu tidak ada pembayaran sama sekali.

Berangkat dari kejadian itu, saya meminta pendapat dari beberapa teman untuk mengatasi pungli yang marak di lembaga pemerintahan. Pendapat yang saya gunakan adalah, meminta kwitansi dan Cap resmi untuk semua pembayaran yang ada. Sehingga, pembayaran tersebut diakui oleh lembaga tersebut. Jadi, ketika itu merupakan pungli, maka saya bisa menyampaikan ke publik melalui media bahwa yang melakukan pungli adalah lembaga. Saya yakin, pimpinan lembaga tidak mau bermasalah dengan urusan seperti ini.

Hari ini saya kembali mengurusi perubahan KK baru serta Akte Kelahiran untuk anak pertama saya. Jalur pengurusan pun masih sama seperti sebelumnya, Kelurahan kemudian Kecamatan, dan terakhir ke Dinas Catatan Sipil. Strategi yang sebelumnya diusulkan oleh teman saya sudah siap digunakan. Tak disangka, saya tidak mendapati lagi pungli di sektor-sektor tersebut. Pengurusan semua administrasi itupun dimudahkan. Dalam hati saya sangat bangga dengan oknum yang tidak menarik pungli tersebut. Saya berharap, oknum yang jujur itu bukan hanya satu orang tapi sudah merupakan sikap dari lembaga pemerintahan. Betapa nyamannya mengurus administrasi pemerintahan yang bebas dari pungli.

Teringat kisah Umar Bin Khattab, amirul mukminin umat muslim sepeninggal Rasulullah Muhammad SAW. Saat beliau keliling desa untuk melihat kondisi rakyatnya, Beliau menjumpai percakapan antara seorang ibu dan anak perempuannya. Sebuah keluarga kecil yang hidup dari menjual susu. Sang ibu memerintahkan anaknya untuk mencampur susu dengan air. Tetapi sang anak menolak, “bukankah Umar melarang kita untuk mencampur susu dengan air?”, kata sang anak. Ibu pun menjawab, “Bukankah Umar tidak ada di sini?”. Kemudian sang anak menjawab, “Walaupun Umar tidak disini, tapi Allah senantiasa mengawasi kita wahai Ibuku.”

Mendengar percakapan tersebut, Umar pun menangis terharu. Kemudian, Umar menanyakan kepada pengawalnya, “hadiah apa yang pantas aku berikan untuk seorang anak perempuan yang jujur ini?”. Sang pengawal menyarankan untuk memberikan 1000 keping emas. “Tidak cukup. 1000 keping emas itu tidak cukup untuk hadiah kejujuran sang anak. Aku akan membawanya ke istana dan akan kunikahkan dengan salah seorang putraku.” Begitulah sepenggal kisah umar. Anak perempuan itu pun menikah dengan anaknya umar.  Dari keturunannya kemudian lahir seorang pemimpin besar umat Islam, Umar bin Abdul Aziz.

Sungguh besar nilai dari sebuah kejujuran jika kita mau bersabar. Jika kita menghitung uang dari hasil pungli tersebut mungkin tidak seberapa dibanding azab Allah yang akan ditimpa ke mereka. Akan tetapi, jika kita mau bersabar dan berkomitmen untuk selalu jujur dengan amanah dan pekerjaan yang kita miliki, maka Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Semoga kita semua senantiasa mampu mempertahankan idealisme kita untuk bersikap jujur demi Indonesia yang bebas korupsi dan demi keindahan Surga yang menanti.

Iklan