Dunia mengenal Arab Saudi sebagai pusat peradaban Islam. Sejarah-sejarah Peradaban Islam banyak ditemukan di Bumi Arab. Termasuk juga kiblat umat muslim di seluruh Dunia ada di sini. Masjidil Haram sebagai masjid terbesar di dunia juga ada di Arab. Hal ini menjadikan Arab Saudi sebagai Negara tujuan bagi umat muslim di seluruh dunia untuk belajar tentang Islam.

Indonesia merupakan Negara dengan jumlah muslim terbesar di Dunia. Sehingga, masyarakat Indonesia juga tentu memiliki keinginan besar untuk bisa beribadah di Arab Saudi. Baik untuk ibadah umroh, maupun melaksanakan rukun Islam yaitu melaksanakan ibadah Haji. Akan tetapi, Arab mungkin bukanlah Negara favorit bagi mahasiswa Indonesia yang ingin belajar tentang sains dan teknologi. Bahkan banyak yang mengira bahwa kuliah di Arab hanya untuk belajar agama. Sedikit sekali yang menyangka bahwa di Arab ini juga ada kuliah untuk jurusan sains dan teknologi. Pandangan tersebut tidak juga salah karena  ulama-ulama besar Dunia pun sebagian besar berasal dari Arab Saudi.

Memilih kuliah sains di Arab Saudi bukanlah tanpa pemikiran yang mendalam. Walaupun perkembangan ilmu sains di sini tidak semaju seperti di amerika atau eropa, tapi sebagai seorang muslim, kuliah di Arab Saudi merupakan impian terbesar saya. Salah satu yang menjadi pertimbangan utama adalah kita akan sangat dekat dengan tanah suci. Ibadah umroh dan Haji yang banyak diimpikan oleh masyarakat Indonesia akan bisa kita kerjakan sesering mungkin tanpa harus mengeluarkan biaya yang besar. Kita akan memiliki kesempatan melakukan ziarah ke tempat-tempat bersejarah pada zaman Rasulullah.

Selain itu, saya juga memiliki keinginan besar untuk bisa belajar agama lebih baik lagi dan belajar untuk menggunakan bahasa Arab. Walaupun bahasa pengantar perkuliahan di sini menggunakan bahasa Inggris, tapi lingkungan Arab akan lebih membantu kita untuk bisa menguasai bahasa Arab. Dengan menguasai bahasa Arab, tentu kita akan lebih mudah memahami isi kandungan Al-Qur’an dan mempelajari kitab-kitab para ulama yang sebagian besar berbahasa Arab.

Walaupun bukan menjadi tujuan utama belajar sains, bukan berarti kualitas universitas di Arab buruk. Buktinya, King Fahd University of Petroleum & Minerals (KFUPM), tempat saya belajar saat ini juga bisa masuk peringkat 200 dunia. Lebih tinggi dari semua universitas di Indonesia.

Mungkin banyak juga yang bertanya, bagaimana caranya bisa kuliah di Arab Saudi? Apakah harus menguasai bahasa arab? Ataukah harus hafal beberapa juz Al-Qur’an?

 Proses Pendaftaran

Kerajaan Arab Saudi begitu perhatian sama pendidikan dan kesejahteraan warganya. Hampir semua sekolah negeri di Arab Saudi gratis di semua jenjang pendidikan, bahkan semua siswa diberikan sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Jadi, orang tua tidak perlu lagi pusing memikirkan bagaimana mengatasi biaya pendidikan anaknya, karena semua sudah ditanggung oleh Negara. Tidak mengherankan, karena di Arab Saudi, terdapat produksi minyak mentah terbesar di Dunia.

Nah, kampus tempat saya kuliah sekarang juga termasuk kampus yang masuk dalam pembiayaan kerajaan Arab Saudi. Sehingga, semua biaya perkuliahan hingga kebutuhan mahasiswa di sini sudah ditanggung oleh kerajaan Arab Saudi. Jadi, saya tidak mengajukan beasiswa tertentu untuk bisa kuliah di sini, karena yang terpenting adalah kita bisa terdaftar sebagai mahasiswa di sini dan kemudian secara otomatis bisa menikmati pendidikan gratis dari kerajaan Arab Saudi.

Apa saja syarat untuk bisa kuliah di Arab Saudi? Masing-masing kampus tentu memiliki standar yang berbeda-beda. Sebagai kampus yang fokus dalam ilmu sains dan teknologi, KFUPM tidak mewajibkan mahasiswa bisa berbahasa Arab apalagi harus menghafal Al-Qur’an. Pengantar perkuliahan di KFUPM berbahasa Inggris. Sehingga faktor utama yang menentukan bisa diterima di KFUPM adalah kemampuan berbahasa Inggris yang ditunjukkan dengan nilai TOEFL atau IELTS. Bagi saya ini bagian yang paling berat, karena butuh waktu setahun lebih untuk mempersiapkan bahasa Inggris.

Faktor penting lainnya adalah adanya rekomendasi dari professor ataupun dosen yang ahli dalam jurusan yang kita lamar. Calon mahasiswa diminta untuk memberikan 3 orang rekomender untuk bisa kuliah di KFUPM. Semua proses pendaftaran dilakukan secara online dan semua gratis. Berkas-berkas lainnya saya pikir hanya sebagai tambahan saja seperti ijazah, transkrip nilai, dan identitas lainnya. Cukup sederhana bukan?

 

Adaptasi Perkuliahan di Arab

Sebagian besar mahasiswa master atau doctor di KFUPM berasal dari luar Arab. Jarang sekali warga Arab yang melanjutkan kuliahnya di dalam negeri. Warga Arab Saudi yang memiliki keinginan melanjutkan kuliah ke jenjang master atau doctor akan dibiayai oleh kerajaan untuk kuliah di Amerika atau Eropa. Sehingga, untuk Graduate Studies, mahasiswa didominasi oleh Warga Nigeria dan Negara muslim afrika lainnya, baru kemudian disusul warga India, Pakistan, Bangladesh. Mahasiswa Indonesia yang kuliah di KFUPM hanya berjumlah 26 orang untuk jenjang master dan doctor.

Masa-masa awal perkuliahan tentu saja kita harus belajar beradaptasi dengan lingkungan yang baru dan teman-teman yang berasal dari berbagai Negara. Saya tiba di Arab di akhir musim panas, sehingga masih sedikit merasakan musim panas di Arab yang saat itu mencapai 43ºC. Walaupun bukan di puncak musim panas, tapi untuk ukuran masyarakat Indonesia, suhu setinggi itu sudah terasa sangat panas. Konon, puncak musim panas di sini bisa mencapai 55ºC.

Semua aktivitas perkuliahan dalam bahasa Inggris. Cukup sulit beradaptasi di awal, karena sebelumnya saya hampir tidak pernah sama sekali mengikuti perkuliahan dalam bahasa Inggris. Di Indonesia, mungkin hanya buku literatur saja yang berbahasa Inggris. Sehingga, saya harus belajar sendiri di kamar untuk mengulang semua materi yang diberikan di kelas.

Mungkin yang sedikit berbeda dari masa kuliah sarjana adalah kita diwajibkan membuat paper untuk tiap mata kuliah dalam 1 semester. Membuat paper berbahasa Inggris dalam rentang waktu 1 bulan begitu berat buat saya. Tapi itulah tantangannya. Saya mulai menikmati kehidupan perkuliahan di sini. Semoga bisa mendapatkan lebih banyak ilmu di tanah Arab ini.

Fasilitas Kampus

Kami tinggal di sebuah asrama yang terletak di dalam kampus. Sehingga dari asrama ke lokasi perkuliahan dapat ditempuh dengan 15 menit jalan kaki. Kampus juga menyediakan fasilitas bus kampus yang bisa kita gunakan sebagai transportasi di dalam kampus. Akan tetapi, karena jadwal perkuliahan mahasiswa master sebagian besar di malam hari, sehingga jarang sekali kita bisa menikmati bus kampus untuk kuliah karena jam operasi bus kampus berakhir pukul 5 pm.

Selain gratis biaya kuliah, semua mahasiswa juga akan diberikan fasilitas buku gratis sesuai dengan matakuliah yang sedang di ambil. Buku-buku yang dibagikan pun merupakan buku cetakan asli yang harganya mencapai jutaan rupiah. Selain itu, mahasiswa juga bisa meminjam maksimal 10 buku diperpustakaan kampus dengan batas waktu 6 bulan. Jadi, begitu selesai mendaftarkan mata kuliah, kita harus segera berburu buku di perpustakaan. Karena jika telat, maka koleksi buku terbaiknya akan habis dipinjam oleh mahasiswa lainnya.

Untuk urusan makanan, kampus juga memberikan subsidi kepada mahasiswa. Artinya, jika di luar kampus kita bisa menghabiskan 20 riyal untuk sekali makan, di dalam kampus kita cukup mengeluarkan uang 4 riyal dengan menu yang sama. Sangat membantu bagi mahasiswa yang sudah berkeluarga seperti saya, sehingga bisa mengirimkan setengah dari student stipend yang kami terima setiap bulannya. Tapi, siap-siap saja bosan dengan menu masakan yang hampir sama setiap harinya. Sehingga, terkadang kami siasati melawan kebosanan dengan masak masakan Indonesia di kamar masing-masing.

Selain fasilitas di dalam kampus, mahasiswa juga diberikan fasilitas refreshing setiap akhir pekan. Kampus menyediakan bus gratis untuk mahasiswa yang akan menikmati akhir pekan di pantai ataupun pusat perbelanjaan. Hanya saja dibatasi dalam waktu 4 jam. Bagi mahasiswa yang lebih dari 4 jam, maka harus pulang sendiri ke kampus dengan menggunakan taxi karena tidak ada transportasi publik lainnya selain taxi.

Bagi saya, semua fasilitas ini sudah cukup untuk menunjang aktivitas perkuliahan. Kita hanya butuh fokus untuk belajar dan memahami semua matakuliah yang diberikan. Tidak ada yang tidak mungkin untuk mengejar sebuah impian. Dulu, mungkin saya tidak pernah berpikiran untuk bisa kuliah ke luar negeri, tapi begitu ada tekad, maka insya Allah akan ada jalan untuk meraihnya. Maju terus untuk Pendidikan Indonesia.

Iklan