Catatan Sumbawa (2) : Tenaga Guru Berlebih

Pendidikan menjadi pondasi utama dalam pembentukan karakter bangsa. Aku masih meyakini, berbagai masalah yang sedang dihadapi bangsa ini akan selesai jika masalah pendidikan sudah ditangani dengan serius oleh pemerintah. Kasus korupsi yang panas belakangan ini juga akibat dari kurangnya moral para pejabat atau pemegang kekuasaan negeri ini. Oleh karena itu, Pemerintah harus memperhatikan permasalahan pendidikan ini dengan serius.

Permasalahan pendidikan yang sering mengemuka adalah kualitas dan pemerataan pendidikan. Hari ini, aku berkesempatan untuk mengunjungi sebuah SMP di kecamatan batulanteh, Kabupaten Sumbawa di mana jumlah siswanya hanya 75 orang. Tak disangka, kunjunganku kali ini juga bertepatan dengan adanya kunjungan dari salah satu anggota DPRD Kabupaten Sumbawa.

Awalnya aku mengira anggota dewan ini akan melakukan kunjungan kerja untuk meninjau kondisi pendidikan yang ada. Ternyata, beliau bermaksud menitipkan salah seorang keluarganya yang baru lulus sarjana guru Fisika untuk menjadi guru di sekolah tersebut. Kebetulan ayahku adalah kepala sekolah di SMP tersebut.

Dalam perjalanan pulang kemudian aku diceritakan kondisi pendidikan di Sumbawa. Ternyata, bukan kali ini saja sarjana guru datang untuk mencari tempat mengajar. Dan bukan hanya di sekolah ini saja. Hampir semua sekolah di Kabupaten Sumbawa sudah kelebihan tenaga guru. Sehingga para lulusan guru pun kebanyakan beralih ke bidang pekerjaan lainnya. Ada yang menjadi pegawai di Bank. Ada pula yang kemudian menjadi pegawai di perusahaan swasta lainnya.

Saat ini aku belum memiliki kesempatan untuk meneliti sejauh apa kualitas guru yang ada di Sumbawa. Setahuku, tingkat pengetahuan  Sumber Daya Manusia di Sumbawa sangat kecil. Minim sekali masyarakat sumbawa yang melanjutkan sekolah hingga ke jenjang yang lebih tinggi. Jika tolok ukurnya tingkat perekonomian, maka sangat sedikit juga masyarakat Sumbawa yang memiliki perekonomian menengah ke atas. Sebagian besar pengusaha dan orang kaya yang ada di Sumbawa adalah pendatang.

Tak pernah menyangka di tengah kondisi masyarakat Sumbawa yang jauh dari sebutan maju ternyata malah tenaga Guru berlebih. Jika secara kuantitas tenaga sudah berlebih, berarti kini aku mempertanyakan kualitas guru dan sarana yang ada di Sumbawa. Entahlah, yang jelas, saat ini aku belum bisa menyebut bahwa kondisi pendidikan di Sumbawa sudah lebih baik. Bahkan masih sangat jauh sekali dari kualitas pendidikan di Jawa. Bersyukur aku pernah mengeyam pendidikan tinggi di Jawa. Suatu saat, aku ingin membangun daerahku lebih maju. Suatu saat. Insya Allah aku akan pulang saat kapasitasku sudah cukup mampu untuk memberikan kontribusi besar untuk Sumbawa. Bismillah.

Iklan

Life is Never Flat

Dulu aku iri melihat temanku yang berpenampilan “gaul”. Kini aku lebih iri melihat penampilan temanku yang selalu rapi mengenakan baju kokonya.

Dulu aku iri dengan teman-temanku yang menjadi vokalis atau personel sebuah Band. Kini aku lebih iri melihat seorang Dai yang ceramah di depan para jamaah sholat. Mengajarkan tentang agama.

Dulu aku iri melihat temanku yang dapat menghapal banyak lirik lagi. Kini aku lebih iri melihat temanku yang hafalan Al-Qur’an dan haditsnya yang sangat banyak.

Dulu aku iri melihat temanku yang pintar ilmu matematika. Kini aku lebih iri melihat temanku yang ilmu agamanya luas, sehingga bisa bermanfaat untuk dirinya dan lingkungan sekitarnya.

Dulu aku iri melihat temanku yang punya pacar cantik dan sexi. Kini aku lebih iri melihat seseorang punya istri yang sholehah, tanpa harus mengenal aktivitas pacaran.

Dulu aku iri melihat temanku yang kaya. Kini aku lebih iri melihat temanku yang sudah bisa mandiri dalam finansial walaupun masih berpenghasilan kecil.

Dulu aku iri melihat temanku yang ke sekolah mengendarai mobil. Kini aku lebih iri melihat kesederhanaan temanku yang ke kampus jalan kaki untuk menuntut ilmu.

Dulu aku iri melihat temanku yang waktu luangnya di gunakan untuk jalan-jalan dan foya-foya. Kini aku lebih iri melihat temanku yang tak pernah terlihat tak membaca Al Qur’an dalam waktu luangnya.

Dulu aku iri melihat temanku yang pandai berbahasa Inggris. Kini aku lebih iri melihat temanku begitu menguasai bahasa Arab.

 

Itulah hidup. Hidup harus selalu berkembang. Hidup harus lebih baik dari sebelumnya. Hidup mengajarkan kita akan arti sebuah perubahan. Perubahan itu memang berat, tapi bukan tidak mungkin kita berubah. Life is Never Flat.

Catatan Sumbawa (1) : Alhamdulilah Ada Amanah

Di tahun terakhir aku kuliah, akhirnya bisa merasakan liburan di kampung halaman. Oleh karena aku masih tercatat sebagai mahasiswa di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta, liburan sekali dalam setahun sudah sangat menggembirakan untukku. Mungkin akan berbeda dengan teman-teman saya yang  memang berasal dari Pulau Jawa juga. Mereka bisa merasakan liburan dan bertemu keluarga lebih intens dibanding aku. Tapi, aku juga masih termasuk beruntung, karena di satu sisi masih ada beberapa temanku yang hingga di tahun ke-5 kuliah pun belum pernah merasakan mudik ke kampung halamannya.

Liburan kali ini sangat berbeda aku rasakan dari liburan-liburanku sebelumnya di Sumbawa. Di tahun sebelumnya, masa liburan sebagian besar aku manfaatkan untuk berdiam di rumah dan sesekali silaturrahim dengan rekan-rekan alumni SMP dan SMA. Biasanya menyelenggarakan buka puasa bersama atau sejenisnya. Tiap tahun pun aku hampir selalu kebagian job untuk jadi ketua panitia penyelenggara. Sederhana sih karena hanya mengundang rekan-rekan sekelas. Aku pun menikmatinya, karena artinya teman-teman masih mempercayakanku sebuah tanggung jawab kecil.

Baca lebih lanjut

Tradisi Impor Pangan di Negara Agraris

Beberapa hari yang lalu aku sempat diwawancarai oleh wartawan metro TV mengenai pendapat mahasiswa atas kenaikan harga kedelai. Kebetulan wawancara itu masuk dalam berita “Suara Anda” yang ditayangkan secara live oleh Metro TV. Sebagai seorang mahasiswa yang sama sekali tidak berlatar belakang ilmu pangan, mungkin isu seperti ini bukanlah isu yang familiar. Tapi, sebagai masyarakat Indonesia, berita ini menjadi heboh karena akan berakibat pada terhentinya produksi tahu dan tempe di Indonesia.

Indonesia pernah terkenal sebagai negara agraris karena daratannya yang masih luas dan beriklim tropis. Sangat cocok sekali ditanam berbagai jenis tanaman pangan. Sehingga, kita tidak perlu lagi untuk mengimpor produk pangan dari negara lain.

Baca lebih lanjut

Kutemukan Jalan Dakwahku di BEM

 

Kehidupan sebelum Kuliah

Tak pernah menyangka dan memang tak ada dalam rencana hidupku akan kuliah di  jurusan statistika UGM. Tapi itulah kemudian takdir yang membawaku menemukan jalan dakwahku. Di kampus besar yang penuh dengan nuansa islami. Aku benar-benar merasakan indahnya Islam di kampus ini. Begitu berbeda dengan kondisi daerah dan sekolahku sebelumnya.

Aku bukanlah seorang organisatoris sebelum kuliah di UGM. Tak ada organisasi yang benar-benar aku tekuni semasa SD hingga SMA di Sumbawa. Pernah mendaftar dalam sebuah organisasi penelitian, tapi kemudian aku tidak merasa nyaman dan kembali pada aktivitas pribadiku. Aku seorang yang sangat introvert terhadap lingkunganku. Karakterku yang pemalu, pendiam, dan sangat anti bersosialisasi menjadikan aku pribadi yang tak berdaya saat itu.

Selain aktivitas di sekolah, lingkungan rumahku juga jauh dari masyarakat sekitar, karena di sekelilingku masih terhampar sawah yang luas. Hal ini berdampak pada kekurangan sosialisasiku dalam pergaulan dengan teman sebaya. Bersyukur aku masih memiliki sahabat baik di sekolah yang akhirnya melibatkanku pada sekelompok klub motor saat itu. Aku pun merasa nyaman dalam aktivitas modofikasi motor tiap harinya. Bergaul di tengah para pecandu rokok dan minuman keras walaupun aku sendiri tidak mudah tergoda untuk menikmati rokok dan minuman keras tersebut. Jauh sekali dari aktivitas islami.

Baca lebih lanjut

Takwa dalam Ramadhan

#SerialRamadhan

Berbagai macam ekspresi ditunjukkan oleh umat muslim dunia dalam menyambut datangnya Bulan suci Ramadhan. Ada yang senang karena akan memperoleh banyak ampunan dosa yang selama ini diperbuat. Ada yang ingin berhemat karena setiap hari bisa makan gratis di masjid. Bahkan mungkin ada yang takut karena akan merasakan lapar dan dahaga sepanjang hari selama sebulan penuh. Apapun ekspresinya, berpuasa di bulan Ramadhan tetap menjadi kewajiban bagi umat islam. Sesuai Firman Allah dalam Q.S Al-Baqarah : 183 :

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu bertakwa.”

Penggalan ayat di atas sudah sangat jelas mewajibkan seorang muslim untuk berpuasa. Lantas kenapa masih ada yang mengaku beragama Islam, tapi belum berpuasa? Ya, perintah berpuasa di atas ditujukan hanya untuk orang-orang yang beriman yang ingin mendapatkan derajat ketakwaan di sisi Allah SWT. Derajat yang paling mulia di sisi Allah. Sehingga, sudah sepantasnya umat muslim merasa gembira ketika akan memasuki bulan suci Ramadhan yang penuh berkah ini.

Baca lebih lanjut

Menata Kembali Rencana Hidup

Saat ini aku masih di tengah kebimbangan menentukan kemana langkah hidup selanjutnya.. Akhirnya aku menata kembali life plan yang dulu sempat aku buat.. Beberapa orientasi yang harus tetap aku pikirkan dan mengalami perubahan diantaranya :

– Rencana menggenapkan setengah dien.. Semoga bisa segera, restu ortu sudah dapat, tinggal memantaskan diri di beberapa bulan ini.

– Membangun daerah asal NTB dan Sumbawa. Kontribusi untuk membangun kampung harus ada dalam setiap pemuda. Apalagi untuk daerah yang sangat minim SDM berkualitas, tetapi SDA berlimpah.

– Langkah menjadi tokoh nasional kelak. Ini mungkin bukan tujuan, karena yang terpenting adalah kontribusi sebisa yang kita mampu.

– Mengembangkan bisnis untuk meningkatkan perekonomian keluarga. Ini menjadi yang terpenting dalam rencana hidupku. Menyediakan banyak lapangan kerja buat kerabat dan keluargaku kelak.

Tentu saja semua rencana di atas tidak boleh terlepas dari tujuan untuk beribadah kepada Allah SWT..

Sukses dunia dan Akhirat pasti BISA..

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sebelum kaun itu mengubah apa yang ada dalam diri mereka” (Q.S. Ar Rad : 11)

Rabbana aatina fiddunya hasanah, wafil aakhiroti hasanah, waqinaa ‘adza bannar. Amiin

“Job Interview” PertamaKu

Ditengah kegalauan akan memilih langkah pengabdian pasca kampus, siang ini aku mencoba memasukkan lamaran kerja di beberapa perusahaan. Kebetulan 2 hari ini di UGM sedang berlangsung “CAREER DAYS XI” di Grha Sabha Pramana. Iseng saja aku mengumpulkan berkas yang tidak lengkap siang ini.

Persyaratan yang dibutuhkan seharusnya mengumpulkan CV, Ijazah, Transkrip nilai, dan fotokopi KTP. Tapi, siang ini aku hanya mengumpulkan CV dan fotokopi KTP, karena berkas lainnya belum aku miliki. Selang 3 jam dari pengumpulan berkas, aku mendapat panggilan dari perusahaan pertama untuk melakukan wawancara sekarang juga. Dalam kondisi yang sangat jauh dari persiapan matang.

Aku bahkan sudah lupa, siang tadi aku melamar di bagian apa di perusahaan tersebut. Mencoba mengingatnya, aku pun belum tahu bidang tersebut bekerja seperti apa. Tanpa pikir panjang, aku segera bersiap diri menuju lokasi wawancara.

Baca lebih lanjut

Harapan itu Masihkah Ada?

Selesai melaksanakan ujian pendadaran skripsi ternyata belum lah akhir dari perjuangan menuju kelulusan. Hari ini juga tepat hari terakhir aku melaksanakan Ujian Akhir selama menjadi mahasiswa S1 di UGM. Ada sedikit perasaan bahagia di hati, karena aku akan segera mempersembahkan kelulusanku ini kepada kedua orang tuaku. Tapi, sedikit kebahagiaan itu tiba-tiba sirna pagi ini.

Pagi ini, Aku berencana mengumpulkan skripsi hasil revisi kepada salah satu dosen penguji. Karena dosen penguji yang satu baru bisa aku temui hari jum’at besok. Setelah menemui kedua dosen penguji ini baru kemudian aku minta tanda tangan ketua dosen penguji dan terakhir dosen pembimbing skripsi. Segera aku mengirim SMS untuk menanyakan keberadaan beliau di kantor hari ini. Kurang lebih percakapannya seperti ini.

Aku : “Assalamu’alaykum hari ini di kantor tidak Pak? Maaf mengganggu. Irwan”

Dosen : “Saya di Bandung ikut konferensi wan, mg depan jg nganter anak2 kkn ke belitung jd mgkn bln puasa aja wan”

Baca lebih lanjut

Ke”Galau”an Pasca Kampus

Hari ini aku mencoba meneropong akan kemana kakiku melangkah pasca kampus ini. Aku sudah mulai dapat melihat berbagai presimpangan yang harus aku pilih saat ini. Walaupun sebenarnya aku tahu Allah sudah menyiapkan rencana terbaiknya buatku. Tapi, bukankah kita harus berikhtiar dulu?

Selama dua hari ini di kampusku sedang berlangsung “CAREER DAYS UGM XI” . Sebanyak 75 perusahaan terlibat dalam momentum yang ditunggu-tunggu oleh para pencari pekerjaan. Indonesia memang saat ini masih belum maju. Sehingga momentum seperti ini menjadi incaran para mahasiswa yang baru lulus maupun yang sudah beberapa tahun menganggur.

Baca lebih lanjut